
AIMAS – Unit Transfusi Darah (UTD) Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sorong menyuplai stok darah di 8 tempat yaitu untuk 3 rumah sakit pemerintah, 4 rumah sakit swasta dan 1 klinik di Provinsi Papua Barat Daya, dengan rata-rata permintaan darah antara 500 sampai dengan 600 kantong tiap bulan.
Direktur Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Kabupaten Sorong, dr. Augustinus Luther mengatakan, dengan tingginya kebutuhan darah di beberapa rumah sakit dan klinik tersebut, pihaknya cukup kuwalahan dalam memenuhi permintaan tersebut.
“Dengan rata-rata permintaan 500-600 kantong per bulan, stok darah saat ini memang masih kurang. Oleh sebab itu kegiatan donor darah selalu digencarkan dalam berbagai kegiatan dan kesempatan,” ujar dr. August.
Disebutkan, dari rata-rata permintaan per bulannya, UTD PMI Kabupaten Sorong baru bisa memenuhi sehitar 80 persen permintaan dari stok yang terkumpul. Sementara 20 persen sisanya yang belum terpenuhi, biasanya dalam keadaan urgent pasien terpaksa harus mencari pendonor sendiri dari pihak keluarganya.
Dari beberapa stok darah yang tersedia, permintaan tertinggi adalah golongan darah O, sebab jumlahnya memang mendominasi. Sementara untuk golongan darah A maupun B permintaannya seimbang.
Kendati stoknya banyak, permintaan golongan darah O tidak berarti mudah untuh selalu dipenuhi. Pasalnya, dengan tingginya pemilik holongan darah O, maka permintaan darahnya pun cukup tinggi.
“Permintaan darah yang biasanya sulit dipenuhi adalah golongan darah O karena permintaannya tinggi sehingga stoknya cepat menipis. Namun untuk golongan darah A maupun B juga tidak berarti mudah untuk dipenuhi karena jumlah pendonornya yang juga sedikit,” akunya.
Diungkapkan dr. August, 20 persen permintaan darah di masyarakat belum bisa terpenuhi karena memang jumlah kantong darah yang ditargetkan dari setiap kegiatan donor darah kadang tak sesuai espektasi. Biasanya, yang sering terjadi adalah, antusias pendonor sudah sangat tinggi namun saat melalui prosea screening ternyata banyak yang tidak lolos.
“Dari sisi kesadaran masyarakat untuk berdonor saya rasa sekarang sudah cukup bagus, bahkan sebagian masyarakat juga sudah punya lifestyle serta pola hidup untuk rutin berdonor. Namun biasanya terbentur saat proses screening, banyak yang ingin, tapi tidak lolos,” ujarnya.
Belum maksimalnya pemenuhan permintaan kebutuhan darah bagi pasien juga dipengaruhi oleh instrumen lain. Misalnya, jumlah yang tidak mencukupi karena dalam suatu kejadian, pasien bisa membutuhkan dua atau lebih kantong darah. Sehingga tidak bisa dihitung dengan angka-angka statistik.
“Kalau juga ingin terpenuhi maka 2% dari jumlah penduduk memang harus membudayakan kegiatan donor darah. Di Sorong minimal 600 orang harus berdonor dalam sebulan. Namun faktanya kita baru bisa merangkul di bawah itu. Kendalanya itu tadi, tidak lolos screening,” kata dr. August.(ayu)














