Puskesmas Remu Dilengkapi Fasulitas Unggulan
SORONG-Penilaian prima atas optimalisasi layanan kesehatan di Puskesmas Remu dikemukakan oleh Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan BPJS Kesehatan, dr. Lily Kresnowati, M.Kes usai meninjau langsung proses pelayanan di Puskesmas tersebut.
“Pelayanannya prima, SOP-nya bagus banget, mulai dari pasien masuk di triase langsung dilakukan skrining Covid-19. Jika potensi maka pasien masuk lewat jalur berbeda untuk dilanjutkan pemeriksaan antigen, menurut saya itu penerapan prokes yang sudah sangat baik,” ujar dr. Lily Kresnowati kepada awak media.
Antrian pasien juga terpantau lancar, bahkan diungkapkan Kepala Puskesmas Remu, dr. Charis Olivia Febby Hattu, tidak ada masa tunggu yang lama dan bisa dilayani dengan segera. Sebab bagi dr. Charis, efisiensi waktu dalam urusan pelayanan sangatlah penting. Bahkan pasien dengan jumlah antara 80-100 orang bisa selesai dilayani batas jam 12.00 WIT.
Saat ini, Puskesmas Remu juga telah dilengkapi berbagai fasilitas unggulan seperti finger print, fasilitas scan barcode, ketersediaan ruang tunggu prioritas, serta mengutamakan ruang terbuka selama masa pandemi. Bukan hanya itu, Puskesmas Remu juga tetap melayani pemeriksaan gigi dan layanan persalinan di masa pandemi. Dimana banyak dokter dan bidan biasanya menolak pasien ketika pandemi mewabah.
Dilanjutkan dr. Lily, kalaupun ada hal-hal yang perlu menjadi masukan bagi Puskesmas Remu, itu hanya berkaitan dengan pemanfaatan JKN mobile untuk antrean online. Sebab menurut dr.Lily, masyarakat di Sorong masih kurang mengenal digitalisasi layanan. Padahal dengan adanya digitalisasi layananan, peserta JKN bisa menggunakan aplikasi JKN mobile untuk mempermudah mereka mengakses layanan kesehatan dengan beberapa fitur yang ada di dalamnya.
Pertama, peserta tidak perlu lagi membawa kartu fisik karena kartu elektronik sekeluarga sudah ada dalam aplikasi tersebut. Sehingga ketika kartu fisik peserta ketinggalan, mereka tidak perlu khawatir karena salinannya sudah ada dalam aplikasi JKN-Mobile. Kedua, ada informasi tentang riwayat pelayanan peserta sehingga ketika peserta sudah pernah berobat dan harus berpindah ke Faskes, maka data pasien berikut penyakit yang sudah pernah ditangani sudah ter-backup. Ini membantu bagi dokter yang akan memeriksa pasien tersebut.
Ketiga, seluruh jenis obat yang ditanggung oleh BPJS kesehatan semuanya ada dalam aplikasi JKN mobile. Sehingga ketika pasien mendapatkan resep untuk dibeli dari luar, maka harus dicek kembali jika memang obat tersebut tercover dalam BPJS kesehatan, maka pasien seharusnya tidak membayar dari kantong pribadi karena itu dijamin oleh JKN.
Keempat, dalam aplikasi tersebut tersedia lokasi Faskes yang ada di suatu wilayah.
“Semisal peserta JKN berada di luar kota, kemudian dia membutuhkan layanan kesehatan, maka bisa langsung datang ke Faskes terdekat yang ada di lokasi itu,” jelasnya.
Kelima, status keaktifan peserta JKN juga dapat dilihat dari aplikasi tersebut. Jadi ketika P-care di Faskes terkendala error, maka tidak akan menyulitkan peserta. Sebab di beberapa Faskes kerap terjadi penolakan pasien karena status keaktifan yang belum jelas, akibat P-care error. Maka dengan JKN mobile ini, peserta JKN akan lebih dipermudah.
Keenam, tersedia fasilitas ketersediaan tempat tidur di rumah sakit. Sehingga ketika pasien atau peserta JKN akan opname, mereka bisa memantau langsung RS mana yang ketersediaan tempat tidurnya masih ada. Sehingga meminimalisasi penolakan pasien dengan alasan tempat tidur penuh, karena informasinya sudah tersedia.
Ketujuh, ada gasilitas tele-konsultasi. Menurutnya fasilitas tersebut dalam aplikasi JKN mobile cenderung kurang dimanfaatkan oleh peserta. Padahal sebenarnya di era pandemi ini, layanan tersebut terbilang sangat dibutuhkan.
“Peserta takut memeriksakan diri ke Faskes karena takut terpapar, solusinya bisa menggunakan JKN mobile. Bisa komunikasi dengan dokter, jika dokter hanya memberikan resep obat sementara tanpa harus pemeriksaan langsung maka pasien tidak perlu mendatangi Faskes. Apalagi saat ini sudah banyak Puskesmas yang memberikan layanan antar obat. Biasanya setelah tele konsuktasi dan diberi resep, dokter akan menanyakan alamat rumah pasien untuk tujuan pengantaran obat, pasien hanya tinggal membayar ongkosnya. Ini sangat bagus,” bebernya.
Hal tersebut juga menguntungkan untuk Puskesmas karena tele konsultasi tetap tercatat di P-care, dan itu menjadi penilaian kinerja dan kontak bagi Puskesmas. Sehingga Puskesmas juga akan tetap mendapatkan pembayaran untuk tele konsultasi tersebut.
Kedelapan, yakni skrining. Melalui aplikasi JKN mobile seluruh peserta JKN dapat melakukan screening dari rumah apakah berpotensi Covid19 atau berpotensi Diabetes dan lain sebagainya. Jika pada saat skrining skornya berpotensi Diabetes maka selanjutnya peserta JKN dapat mendatangi FKTP untuk dilakukan pemeriksaan gula darahnya, apakah berpotensi DM atau tidak.
“Satu keluarga bisa melakukan itu, dan sangat mempermudah. Terakhir, mengenai pasien rujukan. Jika ada peserta JKN yang menderita sakit sehingga harus di rujuk ke rumah sakit, mereka tidak perlu membawa surat atau kertas rujukan dari Puskesmas karena semuanya tercatat di JKN mobile,” imbuhnya.
Disimpulkan dr. Lily, masyarakat di Kota Sorong harus mendapatkan edukasi untuk melakukan digitalisasi layanan. Karena Kota Sorong ini termasuk kota yang maju dengan kualitas jaringan internet yang bagus. Sehingga sayang sekali jika masyarakatnya tidak bisa memanfaatkan teknologi untuk bisa mempermudah akses layanan kesehatan.(ayu)














