SORONG – Himpunan Mahasiswa Farmasi (HIMAFAR) terpilih sebagai salah satu tim ormawa yang lolos dalam ajang kompetisi PPK Ormawa Kemendikbud Ristek (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi) Tahun 2023 bersama 7 tim ormawa lainnya yang ada di Unimuda Sorong.
Ajang PPK Ormawa merupakan ajang kompetisi tingkat nasional dalam rangka penguatan kapasitas ormawa melalui serangkaian proses pembinaan ormawa oleh perguruan tinggi yang diimplementasikan dalam program pengabdian dan pemberdayaan masyarakat.
Selama bulan Juli – September, HIMAFAR terus melakukan tahapan kegiatan diantaranya pra pelaksanaan, pelaksanaan dan pelaporan. Sebanyak 15 mahasiswa Himafar terjun langsung ke Kampung Yeflio, Kelurahan Mayamuk Kabupaten Sorong untuk melakukan survey dan pemetaan permasalahan dan pemetaan mitra sasaran, sehingga melalui kegiatan ini, tim mengusung tema “Konservasi Tanaman Obat Keluarga (TOGA) Guna Terwujudnya Kampung Sustainable Development Goals (SDGs) Kehidupan Sehat dan Sejahtera”.
Fokus kegiatan ini tidak hanya pemberian sosialisasi terkait tanaman obat tetapi juga pembuatan kebun tanamaan obat keluarga dan pelatihan pengolahan tanaman obat dalam upaya peningkatan pengobatan tradisional secara mandiri.
Ratih Arum Astuti, M.Farm. selaku dosen pendamping menyampaikan bahwa program PPK Ormawa Himafar Unimuda ini sangatlah bermanfaat dalam mengembangkan softskill mahasiswa, dan kepekaan mahasiswa dalam menghadapi tantangan kebutuhan masyarakat. Harapannya kelak, mahasiswa dapat menerapkan ilmunya dan menjadi agen solusi dalam menghadapi tantangan yang ada di lingkungan tempat tinggalnya.
“Pelatihan selama 2 hari yang diberikan ke mahasiswa adalah pengolahan tanaman obat, sehingga ketika di lapangan bukan dosen yang aktif melainkan mahasiswa yang menjadi instruktur pelatih serta berinteraksi langsung dengan masyarakat,” ujar Ratih.
Kegiatan ini disambut baik oleh Kepala Kampung Yeflio, Paul Yongki Malakabu. Menurut Paul dalam sambutannya, kampungnya bangga menjadi mitra kerjasama Unimuda dan siap mendukung penuh penuh pelaksanaan Tim PPK Ormawa Himafar Unimuda dengan menyediakan lahan untuk kebun dan lokasi pengembangan produk guna melestarikan tanaman obat khas Papua yang hampir punah di Kampung Yeflio.
“Kami berharap program Kemendikbud Ristek ini mampu mendorong pengembangan potensi masyarakat Kampung Yeflio dengan optimalisasi dan pelestarian sektor pertanian khususnya tanaman obat, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat,” ujar Paul.
TOGA (Tanaman obat keluarga) adalah tumbuhan yang memiliki khasiat obat dan biasa digunakan untuk memenuhi kebutuhan obat-obatan keluarga. Greenland TOGA merupakan sebuah program yang bertujuan untuk mempromosikan budidaya tanaman obat keluarga dengan menggunakan metode yang lebih ramah lingkungan.
Dalam pelaksanaannya, program pembudidayaan Greenland TOGA juga melibatkan masyarakat sebagai bagian dari upaya konservasi lingkungan. Hal ini bertujuan untuk membuat masyarakat lebih sadar akan pentingnya menjaga keberadaan tanaman obat keluarga yang masih banyak ditemukan di alam.
Program ini juga didukung oleh berbagai pihak diantaranya Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Sorong, Julius Makatitta, S.KM., Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Tradisional Dinas Kesehatan Kabupaten Sorong, Nikodemus Lagu, A. MK., Lembaga Mahasiswa Unimuda Sorong, Hardiman Faramit Sanaba, M.M., dan Dekan Fakultas Sains Terapan, Siti Hadija Samual, M.Si.

Menurut Julius Makatitta, S.KM bahwa adanya program PPK Ormawa Himafar Unimuda yang diselenggarakan oleh Kemendikbud Ristek tidak hanya membuat masyarakat Kampung Yeflio menjadi paham akan pelestarian dan pemanfaatan tanaman obat tetapi juga kebun percontohan toga untuk Kabupaten Sorong.
Pembudidayaan Greenland TOGA menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan Sustainable Development Goals atau SDGs kehidupan sehat dan sejahtera di Kampung Yeflio. Salah satu alasan pembudidayaan TOGA ini dilakukan adalah untuk menjaga konservasi TOGA agar tetap lestari.
Menurut Dzaky Wirawan Adha selaku Ketua Tim PPK Ormawa HIMAFAR Unimuda, dalam pemaparan programnya menyampaikan tema konservasi tanaman obat khas Papua di Kampung Yeflio, ilmu meracik minuman dari tanaman obat sudah ada di Kampung Yeflio secara turun temurun. Program ini diharapkan dapat menggali kembali sejarah, budaya dan memunculkan kembali sejarah tersebut ditengah masyarakat. Selain itu, pengetahuan pengolahan tanaman obat berkualitas dengan cara modernisasi minuman diharapkan dapat membangun mind set masyarakat bahwa jamu tidak harus pahit.
Pada akhirnya, pembudidayaan Greenland TOGA dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar Kampung Yeflio. Dengan adanya tanaman obat keluarga yang tersedia di lingkungan sekitar, masyarakat akan lebih mudah mengakses obat-obatan tradisional yang dibutuhkan.
Selain itu, pembudidayaan TOGA juga dapat membantu mengurangi penggunaan obat-obatan kimia yang biasanya dihasilkan oleh industri farmasi. Hal ini dapat membantu menyeimbangkan ekosistem yang ada di sekitar lokasi pembudidayaan TOGA. Dengan adanya upaya pembudidayaan Greenland TOGA, diharapkan dapat membantu meningkatkan Sustainable Development Goals kehidupan sehat dan sejahtera di Kampung Yeflio. Pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan diharapkan dapat bekerja sama untuk menjaga dan mempromosikan budidaya tanaman obat keluarga ini agar tetap lestari dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar.(*/akh)














