SORONG – Melaksanakan program merdeka belajar , yang dicanangkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Ristek Nadiem Makarim, Dinas Pendidikan Kota Sorong pada angkatan pertama didukung oleh 15 orang guru penggerak.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Sorong, Yuli Atmni mengatakan, 15 guru penggerak yang telah mengikuti pendidikan selama 9 bulan itu bertugas di sekolah-sekolah mulai dari TK, SD hingga SLTP untuk memberikan motivasi, menularkan ilmu didiknya kepada para guru dan siswa di sekolah sehingga secara bertahap semua sekolah di Kota Sorong akan menjadi sekolah penggerak sebagaimana target dari Kementerian Pendidikan .
Untuk jadi guru penggerak, Yuli Atmini mengatakan, salah satu syaratnya adalah belum berusia 50 tahun.
Kedepannya, kata Kadis Pendidikan, pengawas dan kepala sekolah diambil dari guru penggerak. “ Jadi sekarang sudah tidak ada penguatan kepala sekolah dan penguatan pengawas itu sudah tidak ada jadi dalam 9 bulan itu mereka dilatih, belajar, jadi semua sudah mencakup penguatan pengawas dan kepala sekolah,”tandasnya.
Meski begitu, kata Yuli Atmini, saat ini masih ada toleransi, dimana meski belum jadi guru penggerak, namun Kepsek sudah mengikuti penguatan Kepsek, makanya jabatnnya masih bisa 4 periode, 16 tahun.
“Kalau kepala sekolah belum mengikuti penguatan kepala sekolah maka jabatannya hanya 1 periode saja , 4 tahun harus turun jadi guru biasa, daftar guru penggerak dulu baru bisa diangkat kepsek lagi,”terang Yuli Amini saat menerima silaturahmi Radar Sorong di ruang kerjanya, Rabu (23/3).
Dalam silaturahmi Radar Sorong dengan Kadis Pendidikan, hadir, Wakil Direktur Radar Sorong, Tupono, GM Akhmad Murtadho, Pemred Rosmini, dan Staf Iklan Fahrudin.
Lebih lanjut, Yuli Atmini mengatakan, setelah menjadi guru penggerak, sangat berbeda dibanding sebelum mengikuti pendidikan . Dimana, di dalam melaksanakan tugasnya yang diutamaan adalah pengabdian.
“ Dalam melaksanakan tugasnya ke sekolah-sekolah, yang utama terlihat adalah kepeduliannya, pengabdian, jadi dia tidak berpikir saya kerja ini dapat apa, tapi lebih ke pengabdian,”tutur Kadis Pendidikan Yuli Atmini.
Dari peran guru penggerak diharapkan dapat menulari ilmu didiknya kepada guru-guru di Kota Sorong, sehingga program merdeka belajar di sekolah itu dapat terwujud.
Ada merdeka belajar dan ada pula merdeka mengajar. “Jadi merdeka balajar ini, bagaimana murid tidak sebagai obyek, murid dibebaskan menunjukkan kreasinya , jadi guru melihat bakatnya dimana,”terang Yuli Atmini. Sedangkan merdeka mengajar adalah dimana setiap guru punya pola sendiri dalam mengajar.
“Kurikulum merdeka mengajar itu yang sekarang digalakkan.Makanya tidak ada lagi ujian nasional. Yang ada assesmen nasional, tapi itu bukan di siswa kalas 6 SD, SMP kelas 3 tidak, tapi justru siswa di kelas dibawahnya, kelas 4, kelas 5. Itu untuk mengukur keberhasilan pendidikan itu sampai dimana,”jelas Kadis Pandidikan Kota Sorong, Yuli Atmini.
Selain didukung 15 guru penggerak , beberapa sekolah pun telah lulus ditetapkan jadi sekolah penggerak, seperti pada angkatan pertama, ada SMP Nusantara , SMP Al Izzah, sedangkan di tingkat TK yang masuk TK Penggerak diantaranya TK Al Furqon di Jalan Bima Km 10 masuk dan TK Al Azhar belakang GOR.
Nilai tambahnya yang jadi sekolah penggerak, mereka dapatkan dana BOS selain reguler, BOS kinerja, mereka otomatis akan punya kegiatan yang lebih, buku-buku dan bantuan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (ros)













