AIMAS – Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Muhammad Syarif Bando secara resmi merilis aplikasi Sistem Inovasi Perpustakaan Digital Terpadu (SI PEGIAT) bertempat di Gedung Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Sorong, Selasa (7/11).
SI PEGIAT sendiri merupakan sebuah inovasi yang digagas oleh Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Sorong, Frilda Syukur. SI PEGIAT adalah sebuah aplikasi yang didesain sebagai perpustakaan berbasis digital. Di mana ribuan bahkan jutaan buku dapat ditemukan secara online di sana.
Kepala Perpusnas, Muhammad Syarif Bando mengatakan, inovasi tersebut merupakan bagian dari implementasi regulasi dan kebijakan Yang saat ini memang sedang didorong oleh Perpustakaan Nasional. Hal tersebut sesuai dengan arahan Presiden RI saat meresmikan Perpustakaan Nasional.
“Beliau memerintahkan kepada saya untuk memperhatikan kebutuhan masyarakat detik per detik dan menit per menit. Karena dunia akan terus berubah makin canggih, oleh sebab itu masyarakat harus bisa mengkonsumsi informasi melalui media digital,” ujar Kepala Perpusnas mengulang penyampaian Presiden RI kala itu.
Karena alasan itulah, lanjutnya, Perpustakaan Nasional terus berkomitmen membantu Perpustakaan Daerah Kabupaten Sorong. Termasuk dalah hal koleksi buku maupun sarana penunjang lain di gedung perpustakaan.
“Kami akan support Kabupaten Sorong dalam berbagai hal, termasuk koleksi buku bahkan hingga perlengkapan meubeler. Kami juga akan memfasilitasi sebuah unit mobil perpustakaan yang saat ini sedang dalam perjalanan dari Jakarta,” ungkapnya.
Ditambahkan, bahwa di tahun 2024 perpustakaan nasional juga akan menghadirkan program pojok baca digital berbasis elektronik. Dimana itu akan menjadi rumah koleksi lebih dari 30 juta buku dalam berbagai aplikasi. Termasuk juga lebih dari 1 juta buku untuk konten kreator para generasi milenial.
Menutup sesi wawancara, ia mengatakan, bahwa hadirnya SI PEGIAT tentu merupakan suatu keniscayaan tidak bisa lagi dihindari. Sebab di era digitalisasi saat ini, semua orang memang dituntut harus bisa ikut bertransformasi.
“Ada dua hal yang menjadi fundamental dalam konteks ini yang pertama biaya mahal menjadi murah dan yang kedua letak geografis Indonesia yang dari Aceh sampai Papua jauh lebih panjang ketimbang dari London ke Turki. Di mana memang hanya dengan transformasi digital inilah semuanya akan menjangkau masyarakat,” tuturnya. Oleh karena itu paradigma yang digagas oleh Perpustakaan Nasional adalah perpustakaan menjangkau masyarakat bukan lagi masyarakat yang menjangkau perpustakaan, dan ini semua hanya hisa dilakukan melalui transformasi digital. Maka kita akan wujudkan sebuah perpustakaan dalam genggaman.(ayu)















