SORONG – Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya melalui Bidang Peternakan, Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner melakukan monitoring dan pemeriksaan kesehatan hewan kurban di sejumlah peternakan di Kabupaten Sorong.

Kepala Bidang Peternakan, Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Provinsi Papua Barat Daya sekaligus Pejabat Otoritas Veteriner Provinsi Papua Barat Daya, drh. M.M. Firdiana Krisnaningsih mengatakan, pemeriksaan dilakukan untuk memastikan hewan kurban yang akan dijual kepada masyarakat berada dalam kondisi sehat dan layak dikurbankan.
“Kami turun bersama tim untuk melihat kesiapan para peternak menjelang Iduladha tanggal 27 Mei nanti. Hari ini kami melakukan monitoring dan surveillance, dan pada umumnya ternak dalam kondisi sehat,” ujar drh. Firdiana saat ditemui di sela pemeriksaan hewan kurban.
Dalam pemeriksaan tersebut, petugas menemukan beberapa sapi mengalami gangguan kesehatan ringan seperti skabies atau penyakit kulit serta cacingan. Peternak diminta terlebih dahulu melakukan pengobatan sebelum sapi dijual sebagai hewan kurban.
“Ada beberapa yang sakit kulit, yang kita sebut skabies. Saya sudah bilang ke peternaknya supaya diobati dulu dan jangan dijual dulu. Ada juga yang cacingan dan langsung diberikan obat cacing,” jelasnya.
Selain pemeriksaan fisik, tim dokter hewan juga melakukan penyuntikan multivitamin kepada sejumlah sapi guna menjaga kondisi dan stamina ternak hingga hari pemotongan kurban.
Menurutnya, hingga saat ini Papua Barat Daya masih aman dari penyakit hewan berbahaya. Meski demikian, pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menjadi perhatian nasional.
“Untuk penyakit berbahaya di Papua Barat Daya belum ada. Yang menjadi prioritas nasional tetap PMK. Kemudian skabies juga termasuk penyakit zoonosis yang bisa menular dari hewan ke manusia,” katanya.
Ia menegaskan, hewan yang mengalami penyakit kulit, luka pada kaki dan mulut, maupun cacat fisik tidak layak dijadikan hewan kurban.
Berdasarkan laporan dari dinas teknis kabupaten dan kota, sebanyak kurang lebih 15 ribu hewan kurban telah dilakukan pemeriksaan kesehatan. Mayoritas stok hewan kurban berada di Kabupaten Sorong yang menjadi sentra peternakan sapi di Papua Barat Daya.
“Stok kurban Papua Barat Daya tahun 2026 siap. Kebanyakan memang ada di Kabupaten Sorong karena mayoritas peternak sapi berada di sana,” ujarnya.
drh. Firdiana juga mengimbau masyarakat agar lebih teliti sebelum membeli hewan kurban.
Menurutnya, masyarakat bisa mengenali ciri-ciri hewan sehat secara sederhana, seperti kondisi tubuh tidak kurus, hidung basah normal, bulu halus, kaki tidak pincang, serta tidak memiliki luka pada mulut maupun sela kuku.
“Kalau sapi cacingan biasanya kurus dan perutnya buncit. Kalau ada luka di mulut seperti sariawan atau luka di sela kuku, itu harus diwaspadai. Kemudian untuk sapi jantan, bijinya harus lengkap dua,” jelasnya.

Ia menambahkan, untuk syarat umur hewan kurban, sapi minimal berusia di atas dua tahun. Sementara untuk sapi Bali, bobot sekitar 180 kilogram ke atas dinilai sudah layak dijadikan hewan kurban.
Ia berharap masyarakat segera melaporkan kepada dinas peternakan atau petugas kesehatan hewan apabila menemukan hewan kurban dengan gejala penyakit agar dapat segera ditangani.(zia)















