MANOKWARI – Salah satu UMKM binaan Bank Indonesia (BI) yang mengikuti pameran Karya Kreatif Indonesia (KKI) di Hall A Jakarta Convention Center (JCC) pada 26 hingga 29 Mei 2022, Desriani pemilik dan juga desainer Batik Tulis Papua mengatakan pada pameran KKI di Jakarta, Batik Papua sangat diminati masyarakat.
“Pada pameran KKI banyak sekali peminat batik Papua dan penjualannya pun juga lumayan banyak,” ujarnya kepada Radar Sorong saat dihubungi melalui sambungan selular, Jumat (27/5).
Ia menjelaskan dalam pameran KKI, Batik tulis Papua membawa berbagai jenis produk atau karya batiknya mulai dari batik printing, batik tenun dan batik tulis.
“Batik tulis Papua sudah menjadi langganan untuk mengikuti KKI sejak 2017 yang diadakan Bank Indonesia,” jelasnya.
Menurutnya, bentuk dukungan Bank Indonesia dalam membina UMKM dirasa sangat membatu sekali, sebab dengan adanya pameran KKI bisa membantu roda perekonomian daripada UMKM yang ada di Papua Barat.
“Selain pameran di KKI, BI juga sering melakukan membantu dalam melakukan promosi misalnya di Bandara Rendani dan sebagainya,” ucap Desriani.
Ia menyayangkan tidak adanya perhatian pemerintah daerah untuk mendorong UMKM yang ada di Papua Barat.
“Jarang sekali pemerintah daerah melakukan pameran-pameran, alangkah baiknya jika pemerintah daerah juga sering mengadakan pameran sehingga UMKM bisa lebih hidup,” katanya.
Batik tulis Papua yang dikelolanya sejak lama tersebut, memiliki sasaran penjualan di kisaran usia 25 hingga 40 tahun. Pasalnya kisaran batik tulis cukup mahal karena proses pengerjaan mulai dari membatik hingga selesai membutuhkan banyak waktu dan cukup rumit.
“Alternatif dari batik tulis, ada batik printing yang harganya sangat terjangkau,” akunya.
Ia mengungkapkan hingga kini peminat daripada batik tulis papua sudah mencakup ke luar daerah tak hanya di dalam daerah saja. Pembelian dari luar daerah kebanyakan melalui website dan juga sosial media.
“Meskipun pemasaran sudah sampai ke luar daerah, tetapi peminat dari dalam daerah sangat banyak karena motif batiknya kan Papua,” ungkapnya.
Ia merincikan batik tulis Papua dan batik printing lebih banyak peminatnya. Namun diantara keduanya batik printing masih lebih dominan karena dari segi harga sudah terpaut jauh.
“Harga batik printing dipatok seharga Rp 70 ribu hingga Rp 80 ribu per meter. Untuk batik tenun Papua per potongnya di banderol Rp 450 ribu, sedangkan batik tulis Papua per potong dibanderol seharga Rp 1,2 juta sampai Rp 1,5 juta. Untuk batik tulis papua dengan bahan sutra per potong dibanderol seharga Rp 2,5 juta,” rincinya.
Dersiani menjelaskan batik tulis Papua sudah diproduksi di Manokwari, sebelumnya untuk membatiknya dilakukan di luar Papua.
“Sekarang produksinya mulain dari membatik hingga selesai sudah dilakukan di Manokwari,” jelasnya.
“Tetapi jika permintaan banyak, saya menggunakan jasa pembantik dari luar Papua,” imbuhnya.
Batik tulis Papua mampu meraup omset per bulan mencapai Rp 100 hingga Rp 150 juta pada saat pandemi covid 19. Sebelumnya, bisa mencapai omset per bulan Rp 200 juta hingga Rp 250 juta.
“Karena masih dalam kondisi pandemi covid sehingga penjualan batik tulis Papua sedikit menurun dibandingkan dengan sebelum pandemi,” pungkasnya. (bw)














