Komoditi Laut Penunjang Devisa Meningkat
SORONG-Dua tahun terakhir devisa ekspor di wilayah Sorong menunjukkan peningkatan yang signifikan. Dimana, realisasi ekspor pada tahun 2021 sekitar USD 6.2 juta meningkat di tahun 2022 menjadi USD 7.9 juta atau naik sebesar 27.8 persen.
Demikian diungkapkan Kasi Pelayanan Kepabeanan dan Cukai dan Dukungan Teknis (PKCDT) Bea Cukai Sorong, Yusman Juandi kepada Radar Sorong. Kamis (2/3).
Kasi PKCDT Bea Cukai Sorong, Yusman Juandi menjelaskan komoditi ekspor yang menjadi penunjang peningkatan devisa adalah komoditi hasil laut, antara lain ikan mackarel, kakap, tuna, udang beku, dan kepiting. Dimana, ikan-ikan tersebut dikirim ke negara Singapura, Hongkong, Jepang, dan Cina.
“Mengingat di Sorong belum ada bandara/pelabuhan internasional, proses pengiriman ke luar negeri dilakukan melalui Surabaya maupun Cengkareng (Bandara Soekarno-Hatta). Akan tetapi dokumen pemberitahuan ekspor barang (PEB) diselesaikan di Bea Cukai Sorong. Sehingga devisanya masuk ke Sorong,”jelasnya.
Yusman mengatakan komoditas ekspor yang masih menjadi andalan saat ini berupa hasil tangkapan laut dengan volume ekspor pada bulan Januari 2023 mencapai 45.806 KG atau senilai USD 568,3 ribu.
Salah satu faktor pendukung peningkatan ekspor saat ini, tambah Yusman, berkat program Rumah Kitong Bisa Ekspor, yang dirilis Bea Cukai Sorong pada tahun 2022. Program ini merupakan pemberdayaan UMKM yang berorientasi ekspor sehingga UMKM yang telah melakukan ekspor dapat menjaga keberlangsungan usahanya di masa yang akan datang dan dapat mengembangkan produktifitas ekspornya.
“Program ini bertujuan untuk memberdayakan UMKM yang berorientasi ekspor khususnya di wilayah Kota Sorong. Selama berjalannya program ini telah menunjukkan hasil yang cukup bagus dan mendapat respon yang baik dari calon eksportir,” ungkapnya.
Tujuan dari rumah kitong bisa ekspor juga diwujudkan dengan munculnya beberapa eksportir baru, sambung Yusman hal ini memotivasi Bea Cukai Sorong untuk semakin meningkatkan pelayanan dan memberdayakan eksportir baru lainnya.
“Kami juga akan tetap memantau perkembangannya, tidak kami lepas begitu saja.
Sebab, kami juga mengharapkan UMKM tetap melakukan ekspor secara berkelanjutan. Dan bila UMKM menemui kendala, maka kita akan bantu fasilitasi dalam menemukan solusinya dengan mempertemukan dengan pihak terkait karena dalam program pemberdayaan UMKM ini Bea Cukai Sorong bersinergi dan berkolaborasi dengan instansi lainnya di bawah Kementerian Keuangan, Pemerintah Daerah, Bank Indonesia, Karantina, dan instansi terkait lainnya,”ungkapnya.
Sementara itu, Kasi Penyuluhan Bea Cukai Sorong Wahyu menambahkan program pendampingan ekspor sudah berjalan sejak tahun 2020. Sasaran programnya adalah orang/pengusaha yang mengirim komoditas ekspor dari Sorong, hanya saja penyelesaian dokumen ekspor di Jakarta, Surabaya atau Makassar dengan menggunakan nama orang/perusahaan lain.
“Sehingga tim kami mencoba agar pengusaha di Sorong bisa ekspor dengan menggunakan nama mereka sendiri dan dari Sorong. Agar devisa pun masuknya ke Sorong. Namun, yang terpenting pengusaha sudah memiliki calon pembeli di negara yang akan di tuju,”ungkapnya.
Wahyu menuturkan Bea Cukai Sorong telah mendorong program tersebut selama 2 tahun belakangan ini. Dan di tahun 2022, akhirnya dibentuk program Rumah Kitong Bisa Ekspor.(juh)













