Dilengkapi Mall, Bioskop XXI, Pusat Kuliner, Hotel, Perkantoran, Perbankan
SORONG – Area kawasan Bandara DEO seluas 13 hektar yang saat ini masih berupa lahan kosong di bagian depan bandara akan dijadikan Airport City. Airport City yaitu pengembangan bandar udara yang tidak hanya menyediakan jasa penerbangan namun sekaligus melakukan fungsi komersial nonpenerbangan yang didukung dengan penyediaan sejumlah fasilitas seperti mall, hotel, perkantoran dan lain sebagainya.
“Kita punya lahan kosong di bagian depan bandara seluas 13 hektar. Kita akan mengoptimalkan lahan kosong ini, karena kita (Bandara DEO) sudah menjadi BLU (Badan Layanan Umum), dimana kalau BLU berarti institusi ini harus mampu secara mandiri dalam pembiayaannya, dari pendapatan-pendapatannya yang dikumpulkan melalui pembayaran PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) menjadi bagian untuk pembiayaan pelayanan selanjutnya,” ujar Kepala Bandara DEO Sorong, Cece Tarya kepada Radar Sorong, Kamis (23/2).
Maka kata Cece Tarya, menggarisbawahi dari instruksi Menteri Keuangan bahwa aset setiap institusi pemerintah harus bisa manfaatkan secara optimal. “Nah untuk rencana lahan yang masih tersedia 13 hektar di bagian depan bandara itu nantinya akan kita kembangkan sebagai Airport City, dimana nanti kita bangun areal Commercial Park, di dalamnya ada mall, pertokoan, bioskop XXI, pusat kuliner dan ada pelayanan-pelayanan lainnya,” ungkapnya.
Selanjutnya akan dibangun juga Business Park. Dimana kalau mengacu pada ketersediaan okupansi hotel yang ada di Sorong setiap ada iven-iven kekurangan kamar hotel. Di Business Park ini nanti akan dibangun hotel transit, dimana hotel transit yang dikemas juga dengan tempat jajanan kuliner untuk tamu-tamu hotel itu tanpa dilayani makan-minum di hotelnya, tapi mereka bisa turun dari kamarnya dan berhadapan langsung dengan pusat kuliner sesuai dengan pilihannya. “Di Business Park ini juga ada untuk kegiatan rapat-rapat atau convention hall, ada juga pusat perkantoran, dan perbankan,” terangnya.
Zona ketiga adalah Logistic Park. Logistic Park ini terkait dengan bagaimana mengelola cargo, di mana akan ada pergudangan yang terintegrasi dengan regulated agent dan warehouse nantinya. Semua pendistribusian barang dan sebagainya akan masuk ke gudang-gudang sehingga gudangnya dekat tanpa harus kesulitan untuk mengatur arus kemacetan dan sebagainya.
Dijelaskan pula bahwa ada satu lagi lahan di sebelah timur DPPU (Depot Pengisian Pesawat Udara) kurang lebih 6,5 ha yang dapat digunakan untuk MRO (Maintenance, Repair, and Overhaul) atau bengkel pesawat kategori C, untuk pesawat-pesawat kecil jenis ATR ke bawah.”Tujuannya untuk bagaimana kita menekan disparitas harga tiket antara wilayah barat dengan timur, supaya dengan perawatan yang lebih murah di sini maka harga tiket bisa tertekan/lebih murah, sehingga laju inflasi dapat kita kendalikan,” tegasnya.

Dikatakan bahwa rencana pengembangan sisi luar bandara (Airport City) tidak dibangun dengan anggaran APBN, tapi pengelola BLU akan bekerjasama dengan pihak ketiga atau investor untuk mengembangkan ini.”Kami barangkali tinggal menyusun terkait dengan dokumen FS (Feasibility Study) saja, kelayakan untuk dibangun jadi Business Park, Commercial Park, MRO ini ada dokumen itu yang menyatakan bahwa layak, tapi kelayakannya itu dengan tahapannya seperti apa, maka kita baru bisa melakukan lelang kepada investor mana yang menawar dan kepada investor mana jatuhnya. Dari sisi kerjasama tersebut apakah kerjasama long term atau short term-nya seperti apa nanti pembangunannya dilakukan oleh mereka tentunya harus mengikuti tatanan dokumen KKOP (Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan).
Rencananya Airport City itu akan mulai digulirkan tahun 2025, karena tahun ini dan tahun 2024 pihaknya akan mencoba memanage atau mempersiapkan semua lahannya dan menyiapkan dokumen approval/ dokumen kelayakan yang masih dibiayai APBN, sehingga pemanfaatan optimalisasi untuk rencana pengembangan Bandara DEO itu akan mulai dilaunching tahun 2025, tentu perlu dukungan Pemda dan masyarakat khususnya terkait keamanan agar para investor bersedia masuk berinvestasi di sini,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Bandara DEO juga menjelaskan bahwa, data lalulintas penerbangan di Bandara DEO meningkat cukup tajam, dimana pada tahun 2021 – 2022 ada kenaikan signifikan sebesar 159 persen.
Berdasar data per Januari 2022 dibanding 2023 ada kenaikan 39 persen. Sedangkan untuk cargo per Januari sudah ada kenaikan 27 persen.
Kemudian untuk kedatangan turis asing di Bandara DEO per harinya antara 200-250 orang.”Jadi pelayanan kita otomatis disamping untuk pelayanan masyarakat secara normally-nya sebagaimana tertuang dalam SOP kami tentunya harus meningkatkan pelayanan,” tuturnya.
Dijelaskan Cece bahwa, secara institusi Bandara DEO yang semula sebagai satuan kerja pengelola PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) menjadi satuan kerja BLU (Badan Layanan Umum), dimana BLU itu otomatis mengedepankan sisi pelayanan. “Nah, karena dari sisi pelayanan, pelayanan apa saja dengan kondisi yang ada seperti saat ini, dimana saat ini turis sudah banyak, dan beberapa orang sudah mempertanyakan terkait dengan ketersediaan fasilitas layanannya, maka kita mungkin bulan depan sudah ada Money Changer (jasa perdagangan mata uang),” ungkapnya.
Kemudian ada juga fasilitas penyimpanan sementara barang bawaan turis yang tidak perlu dibawa ke Raja Ampat, di Bandara DEO ada tempat penyewaan locker, tempat penyimpanan barang bawaan yang tidak dibutuhkan saat bertamasya ke Raja Ampat. “Kita juga akan menghadirkan pelayanan untuk pengurusan jasa keimigrasian, supaya mereka tetap menikmati kunjungan wisatanya tanpa perlu takut untuk mengurusi masalah keimigrasiannya. Apabila mereka terkena dampak masalah pelanggaran hukum dan sebagainya kita juga akan menghadirkan Law Office, untuk pelayanan mereka,” ungkapnya.
Kemudian saat ini Bandara DEO juga melayani pengurusan jenazah yang mau dikirim ke luar Sorong. Karena selama ini bila ada orang yang meninggal mau dikirim ke luar Sorong seringkali pihak keluarga yang meninggal itu sangat sulit untuk mengurusinya, dan ini biasanya akan berdampak pada protes dari keluarga tersebut.”Nah kami coba menghadirkan juga layanan untuk pengurusan jenazah bilamana akan dibawa ke luar Kota Sorong, jadi mulai dari penyediaan peti jenazah, mengurusi jenazah, pengangkutannya ke tempat tujuan, bahkan sampai mengurusi tiket untuk pendampingnya,” tandasnya.
Kemudian layanan lainnya adalah misalnya ada anak yang ingin ke Jakarta, di sana ada keluarga atau sanak familinya. Kalau orang tuanya harus antar anaknya ke Jakarta biayanya mahal, padahal dengan menggunakan layanan excellent services yang ada di Bandara DEO cukup membayar Rp 150 ribu saja, bawa anaknya ke terminal Bandara DEO nanti ada petugas yang bertanggung jawab untuk mengurus dan mengantar anak itu sampai duduk di kursi pesawat. Kemudian setelah sampai di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta ada petugas yang mengurus dan mengawal anak itu sampai dipertemukan dengan keluarga yang menjemput di Bandara Soekarno-Hatta.
“Karena ini memang kita antisipasi juga pelayanan tamu-tamu negara, para pejabat tinggi yang protokolernya belum tersedia di Kota Sorong, sehingga mereka bisa mempercayakan kepada pelayanan kami tanpa harus datang ke Sorong, kami akan menguruskan sesuai standar-standar mereka. Namun setiap pelayanan dimaksud akan dikenakan tarif yang sesuai dengan approval dari Kementerian Keuangan,” terangnya.
Kedepan pihaknya juga akan bekerja sama dengan pemerintah daerah, bagaimana menjadikan Bandara DEO sebagai Embarkasi Haji dan Umroh untuk mengakomodir Calon Jamaah Haji (CJH) dari Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Maluku, dan Maluku Utara. Dimana berdasar data Kemenag daftar tunggu CJH Kota Sorong sudah di atas 15 tahun, hal ini usulannya secara politik demografi memungkinkan wilayah timur mempunyai 1 bandara yang berfungsi sebagai Embarkasi Haji untuk memenuhi kebutuhannya. “Kalau menjadi Embarkasi Haji keuntungannya secara langsung bagi Bandara DEO tidak besar, karena paling terbatas 7-8 kloter saja. Dari sisi pendapatan PJP2U (Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara)-nya tidak sampai Rp 1,5 Miliar,” tandasnya.
Namun dampak dari dibukanya Embarkasi Haji kata Cece tentunya ada sifat internasionalnya, Bandara DEO menjadi TPI (Tempat Pemeriksaan Keimigrasian). Kalau sudah menjadi tempat TPI maka otomatis Bandara DEO boleh menyelenggarakan penerbangan internasional, untuk mendatangkan turis-turis yang ada di negara-negara di atas Kepala Burung, juga untuk ekspor-impor komoditas yang ada di Sorong ke negara-negara di atas Kepala Burung, yaitu Hongkong, China, Korea, dan Jepang, dimana Hongkong sebagai destinasi ekspor kita yang terbesar, dimana selama ini produk dari Sorong dikirim dulu ke Jakarta kemudian dari Jakarta balik lagi melintasi di atas Kepala Burung baru masuk ke Hongkong.”Padahal kalau ada penerbangan langsung dari Sorong 5 jam saja sudah sampai Hongkong. Tapi karena harus lewat Jakarta maka ada selisih waktu 11 jam. 11 jam ini ada nilai rupiah yang dapat lebih diefisienkan, mungkin dengan harga yang lebih baik dan komoditas pun kualitasnya lebih baik,” ujarnya.
Sementara itu, saat ditanya tentang SDM di Bandara DEO Cece mengatakan bahwa jumlah pegawai Bandara DEO ada 99 ASN dan 108 honorer.
“Kita punya Analisis Beban Kerja (ABK) sudah dihitung secara keseluruhan untuk sampai tahun 2027, bahwa selama tidak ada penambahan jam operasi bandara maka kebutuhan SDM adalah ABK nya tetap, kecuali nanti ada penambahan jam operasi bandara sesuai peningkatan jumlah lalulintas udara yang masuk,” ungkapnya.
Mengenai jumlah kuota pegawai atau mengangkat pegawai di bandara itu kewenangan pusat, pihak bandara hanya menerima. “Saat ini ASN di Bandara DEO 68 orang dan ketitipan ASN untuk Bandara Werur dan Bandara Segun, total ada 99 orang ASN. Bandara Segun fisiknya belum ada sehingga masih jadi bagian ASN Bandara DEO, Bandara Werur juga belum operasi karena ada klaim pemilik lahan. Selama belum ada penambahan waktu pelayanannya kami belum bisa mengusulkan untuk menambah baik ASN maupun honorer. Kecuali ada honorer yang mencari kesempatan kerja di tempat lain baru kita bisa terbuka,” terangnya.
Jumlah honorer saat ini 108 orang, sebelumnya 133 orang namun untuk tenaga kebersihan terminal sudah diserahkan pengelolaannya kepada pihak ketiga melalui kontrak kerja.”Angka 108 orang honorer ini sesuai jumlah pagu yang tersedia untuk membayar honorer itu. Sehingga kami belum bisa melakukan penerimaan kembali. Kita nanti kalau sudah BLU bisa merekrut tenaga ahli profesional yang punya pengalaman dan sertifikat kompetensi keahlian tertentu, misalnya sebagai tenaga ahli bidang procurement, kontraktual kerjasama, desainer, desainer interior, arsitektur, dan teknis penanganan peralatan,” pungkasnya.(akh)















