SORONG – Area Manager Communication PT Pertamina Patra Niaga Sub Holding Commercial and Trading, Edi Mangun mengatakan bahwa distribusi BBM yang ada di Papua dan Maluku 90% disupply dari Pertamina RU V Kilang Balikpapan Kalimantan Timur. Kemudian ada 1 atau 2 persen dari Pertamina RU VII Kilang Kasim di Sorong dan ada sedikit supply dari Kilang Cilacap, jika ada service/maintenance di Pertamina RU V Balikpapan.
“Jadi peredaran BBM yang ada di Kilang Balikpapan difokuskan oleh Pertamina untuk menjaga ketahanan energi di wilayah Indonesia Timur. Mulai dari Sulawesi, sampai Papua termasuk Maluku. Jadi kalau kita bilang khusus Papua-Maluku, Region Papua-Maluku ini supply dari Kilang Balikpapan 90%,” ungkapnya, Rabu (8/6).
Edi Mangun menjelaskan bahwa kalau berbicara sebutan Kota Minyak di Sorong, itu adalah kisah masa lalu. Karena di Klamono pada tahun 1948, kemudian era emas setelah tahun 1970an, KMT Sele setelah ditemukan Linda kemudian Salawati. Di era 1970-1980an itu era emas. Makanya ketika itu karena industri migas terutama eksplorasi, dan produksi itu berada di Sorong, bukan di Kota Sorong. Karena posisinya di Klamono, Salawati dan Wariagar.

Tapi homebase pekerja migas dan kantornya berada di Sorong, waktu itu bukan kota. Makanya orang bilang Sorong, kota minyak. Tapi memasuki akhir tahun 1980an, itu sumur-sumur minyak, lapangan-lapangan produksi di Klamono, Salawati, Wariagar mulai decline, mulai turun kecuali di Pertamina RU VII Kilang Kasim. Kemudian sampai tahun 1990, lapangan produksi di Waliyo mulai turun. Ketika mulai ada pergeseran, Kota Sorong mulai berubah jasa yakni menjadi kota jasa.
Nah, kata Edi Mangun, kalau berbicara Kota Balikpapan yakni Cikal bakal pendirian Pertamina RU V Balikpapan adalah peristiwa pengeboran minyak untuk yang pertama kalinya di Balikpapan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada 10 Februari 1897.
“Peristiwa bersejarah tersebut menjadi awal mula berdirinya Kota Balikpapan. Pengeboran sumur minyak pertama, yang diberi nama Sumur Mathilda, dilakukan oleh Mathilda Corporation, kerjasama antara J. H. Menten dan Adams dari Samuel & Co,” jelasnya.
Lanjutnya, Berlokasi di Balikpapan, Kalimantan Timur, RU V telah beroperasi sejak 1922 dan saat ini memasok hingga 26% total kebutuhan BBM di seluruh Indonesia. Lokasi RU V Balikpapan sangat strategis untuk memasok kebutuhan BBM di kawasan Indonesia Timur, dan didukung oleh jaringan distribusi yang baik, mencakup pipa distribusi, kapal tanker, serta moda transportasi darat.
“Kemudian tahun 1922 Kilang Minyak dibangun, dan Kilang itu bertahan hingga sekarang, setelah mengalami pengeboman perang dunia ke ll tapi terus dipertahankan oleh pemerintah Hindia Belanda dan kemudian setelah Republik Indonesia merdeka, Indonesia mempertahankan hingga hari ini. Artinya kehidupan migas di Balikpapan sampai hari ini tetap ada. Kemudian penunjang di sekitarnya seperti di Senipa tetap aktivitas sumur-sumur tetap ada,” ujarnya.
Refinery Unit V memiliki kapasitas pengolahan minyak mentah 260 MBSD setara 25 %dari kapasitas intake nasional dan market share BBM 15,6 % skala nasional. Refinery Unit (RU) V Balikpapan merupakan salah satu Unit Bisnis Direktorat Pengolahan Pertamina yang produknya disalurkan ke kawasan Indonesia bagian Timur yang merupakan 2/3 dari NKRI dan beberapa produk disalurkan ke Indonesia bagian Barat dan diekspor. Produk-produk yang sesuai dengan Service Level Agreement (SLA) yaitu meliputi Bahan Bakar Minyak/BBM (Premium, Kero, Solar, Pertadex & Pertamax), Non Bahan Bakar Minyak/NBBM (Smooth Fluid 05), dan LPG. Seluruh produk yang dihasilkan digunakan untuk memasok kebutuhan dalam negeri khususnya wilayah Indonesia Bagian Timur.
“Jadi kalau Kota Balikpapan sampai saat ini disebut Kota Minyak memang layak karena hingga hari ini jelas aktivitas migas disitu masih bertahan dan menjadi primadona. Berbeda dengan Kota Sorong karena aktivitas migas sudah ada di Kabupaten Sorong. Jadi kalau bicara Sorong kota minyak, itu adalah bagian dari masa lalu,” pungkasnya.(zia)














