SORONG – Menjelang Hari Raya Iduladha 2026, para peternak sapi lokal di Kabupaten Sorong mengeluhkan anjloknya penjualan hewan kurban akibat membanjirnya pasokan sapi dari luar daerah. Kondisi ini membuat penjualan sapi lokal merosot drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Salah satu peternak sapi di wilayah Sorong, Sis Mulyono, mengaku tahun ini hanya mampu menjual tujuh ekor sapi, jauh menurun dibanding momen Iduladha tahun sebelumnya yang bisa mencapai 25 hingga 30 ekor.
“Peminatnya agak kurang sekarang, Bu. Karena ada stok sapi dari luar datang, jadi sapi lokal peminatnya berkurang,” kata Sis Mulyono saat ditemui di kandangnya.
Peternak yang telah menjalankan usaha ternak sapi selama kurang lebih 10 tahun itu mengatakan, dirinya saat ini memelihara sekitar 35 ekor sapi, mayoritas sapi bali.
Menurutnya masuknya sapi dari luar daerah pada momentum mendekati Idul Adha sangat berdampak terhadap peternak lokal.Menurutnya, peternak tidak menolak masuknya pasokan sapi dari luar, namun berharap pemerintah dapat mengatur waktu distribusinya agar tidak bertepatan dengan momen penjualan utama peternak lokal.
“Kalau keinginan peternak ya bolehlah sapi dari luar masuk, tapi jangan pas hari-hari momen Lebaran Haji. Kasih kesempatan peternak lokal supaya bisa jual sapi juga,” ujarnya.
Mulyono menjelaskan harga sapi bali yang dijualnya bervariasi mulai dari Rp17 juta hingga Rp25 juta per ekor. Sementara untuk jenis sapi besar seperti metal, limosin dan brahman, harga jualnya bisa mencapai Rp75 juta hingga Rp80 juta dengan bobot sekitar 900 kilogram.Ia bahkan berharap suatu saat sapi miliknya dapat dipilih sebagai hewan kurban Presiden Republik Indonesia.
“Harapan saya mudah-mudahan bisa diambil Pak Presiden supaya kami juga dapat tambahan modal lagi,” katanya.
Keluhan serupa juga disampaikan Rozi, peternak sapi di wilayah perbatasan Jamaimu dan Klamalu, Kabupaten Sorong. Selama empat hingga lima tahun terakhir, ia mengembangkan usaha ternak secara mandiri tanpa bantuan pemerintah.Saat ini Rozi memiliki 11 ekor sapi bali. Sebagian sapi miliknya terpaksa dijual untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan biaya sekolah anak.
Menurut Rozi, penjualan sapi biasanya meningkat saat Iduladha dengan rata-rata dua ekor sapi kurban terjual setiap tahun. Namun tahun ini stok sapi besar miliknya belum siap jual.Selain persoalan pasar, ia juga menghadapi kendala dalam pengembangan ternak melalui program inseminasi buatan (IB) atau kawin suntik. Keterlambatan distribusi semen beku dari dinas terkait dinilai menghambat produktivitas peternak.
“Kalau sapi betina sedang birahi tapi stok bibit IB kosong, kesempatan itu hilang dan harus tunggu lama lagi. Itu sangat merugikan peternak,” ujarnya.
Meski demikian, kondisi kesehatan ternak di wilayah tersebut secara umum masih aman. Gangguan yang sering terjadi hanya cacingan dan perut kembung akibat perubahan cuaca.
Para peternak berharap pemerintah daerah melalui dinas peternakan dapat memberikan perhatian lebih terhadap peternak lokal, mulai dari pengaturan distribusi sapi antar-daerah saat Iduladha hingga bantuan bibit, kandang, pagar, dan ketersediaan semen beku untuk program IB.Mereka menilai tanpa keberpihakan pemerintah, peternak lokal akan semakin sulit bersaing di tengah masuknya pasokan sapi dari luar daerah pada momentum penjualan terbesar setiap tahun.(zia)















