SORONG – Pertamina EP Papua Field memiliki 6 sumur minyak di Pulau Salawati Kabupaten Sorong Papua Barat Daya. Dari keenam sumur di Pulau Salawati itu Pertamina EP dapat memproduksi 360 Barel Minyak Per Hari.
Guna meningkatkan produksi minyaknya pada akhir bulan September 2023 hingga awal bulan Oktober 2023 dilakukan well service di Pulau Salawati.
HSE Koordinator Pertamina EP Papua Field, Muhammad Nur Setiadi mengatakan bahwa pihaknya melakukan well service untuk meningkatkan produksi Sumur Alfa 2 di Pulau Salawati. Adrie Defrie Kodong selaku command well service mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan well service selama 5 hari (8 hari dengan movingnya).
“Sebelumnya kita pakai gas lift, sekarang kita pakai SSP (sub submersible pump), mudah-mudahan dengan SSP ini kita bisa meningkatkan produksi,” ujarnya.
Dikakatan bahwa sumur minyak di Pulau Salawati itu mulai produksi tahun 1977, terakhir di well service tahun 1979, dan sekarang baru di well service lagi. “Kami menginstal alat bawah tanahnya, pompa untuk pengangkatan dari bawah tanah. Kenapa rentang waktu well service lama? Tergantung pekerjaannya apalagi sumur ini lama tidak dikerjakan, artinya kita juga was-was dengan resiko yang ada, kita mitigasi dulu semua sebelumnya, kita sudah belajar untuk history well-nya dulu, sumur ini bagaimana, akhirnya kita bisa melakukan bahkan syukur sampai selesai dengan aman,” terangnya.

Dijelaskan bahwa komponen yang diganti yakni pompanya, dulunya memakai injeksi gas sekarang memakai SSP.”Kenapa harus seperti itu? mungkin karena keadaan situasi kondisi saat ini, kita tidak punya kompresor, jadi dulunya dikontrak, sekarang kontraknya habis, kita tidak punya kompressor maka kita menggunakan SSP,” ungkapnya.
Sementara itu, Yulius Meder, operator produksi Pertamina EP di Pulau Salawati mengatakan bahwa, dalam kegiatan rig ada 5 system yang berkaitan yaitu: Pertama, hoisting system/sistem angkat, mengangkat dari bawah.Kedua, Rotating system/ sistem putar, di rotating sistem sendiri apabila ingin melakukan pengeboran atau kegiatan-kegiatan peningkatan produksi yang memutar dari pipa itu adalah sistem rotasi. Ketiga, power system yang digerakkan oleh prime mover untuk menggerakkan unit-unit tersebut. Keempat, sirculating system, untuk menjaga kondisi rig supaya tetap aman atau kondisi sumur supaya tidak ada potensi blow out semburan liar dari dalam sumur itu sendiri. Kelima, well control atau sistem barrier.
“Kalau dari sistem sirkulasi sendiri kita tidak bisa melakukan pengontrolan, kita ada yang namanya BOP system di situ, nanti kalau pas service itu terpasang semua rangkaiannya, jadi kalau ada semburan kita bisa ditutup kemudian dilakukan kegiatan penanganan lanjutan untuk mengamankan sumur.5 sistem itu harus saling berkaitan dan saling berjalan untuk kegiatan rig,” tandasnya.
Dijelaskan bahwa fluida yang diangkat dari sumur selanjutnya dialirkan ke flolen menuju separator.”Dari separator kita bagi jadi 3 fase, yang paling atas gas, setelah gas minyak, paling bawah air. Selanjutnya gasnya ke blering, airnya kita injeksikan ke sumur injeksi lagi, minyak ke tangki SPU, setelah itu dipompakan ke oil bars, kemudian dikirim ke KMT, dari KMT diolah di Kilang,” terangnya.
Sementara itu, Syarif Hidayat, operator PT. Genggam Asa Sekawan menjelaskan bahwa, di lokasi tersebut (di Pulau Salawati) ada separator dan hidromanipol. Dimana separator untuk memisahkan minyak, gas dan air. Minyak dialirkan ke tangki SPU, gas ke schrader dan air ke sumur injeksi.
“Kapasitas separator 1 di 18.000 barel, separator 2 di 15.000 – 17.000 barel. 6 sumur lewat sini semua. Sumur Charli, Echo, Alpha 9, 1/2 Nopember yang sekarang lewat sini. Karena beberapa sumur diservice, totalnya 2400 barel per day. Jangka waktu pemisahan butuh waktu rata-rata 2 menit. Dari sini ke SPU (stasiun pengepul utama), kita hanya memisahkan minyak, gas, air. Gas kita larikan ke spuber, minyak ke SPU, air ke sumur injeksi lagi,” pungkasnya.(akh)














