WAISAI- Sebanyak 24 group Suling Tambur memperebutkan hadian uang tunai senilai ratusan juta rupiah dalam ajang Festival Suling Tambur, Kabupaten Raja Ampaf tahun 2023. Ajang ini, berlangsung di Pantai WTC, Waisai, Kamis (19/10).
Pantauan Radar Sorong, masing-masing group suling tambur hadir dengan berbagai kostum yang menarik. Yang paling menghebohkan adalah peserta Suling Tambur asal Distrik Misool Timur yang menggunakan gemutu sebagai kostume.
Ketua Panitia Mansyur Syahdan menjelaskan kegiatan Pesona Raja ampat dan Suling Tambur ini merupakan kegiatan tahunan yang kembali digelar usai 3 tahun vakum akibat Covid-19. Dia mengaku pihaknya mencoba melaksanakan ajang tersebut semeriah mungkin akan tetapi nampaknya tidak semeriah 3 tahun lalu.
“Yah kami upayakan semeriah mungkin, tapi karena baru bangkit lagi. Jadi sepertinya tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Kami mengadakan lomba lima jenis lomba,” jelasnya kepada media, Kamis (19/10).
Mansyur mengatakan paska Covid-19 perekonomi Raja Ampat menurun. Sebab, sebelum Covid-19 pendapatan masyarakat meningkat akibat kunjungan wisatawan ke Raja Ampat yang diperkirakan sekitat 80 hingga 90 persen.
“Makanya dengan kegiatan ini bisa meningkatkan perekonomian masyarakat lah. Paska Covid-19 ini, kunjungan wisatawan menurun. Tapi di tahun 2023 ini kunjungan wisatawan mencapai 75 persen,” ungkapnya.
Mansyur menyebut lomba suling Tambur Raja Ampat ini memperebutkan uang tunia hingga ratusan juta rupiah. Bagaimana tidak, juara pertama saja mendapatkan hadiah Rp 100 juta, juara kedua Rp 75 juta, juara ketiga Rp 50 juta.
“Bahkan kami juga memberikan uang pembinaan terhadap semua peserta senilai Rp 5 juta. Ini diikuti oleh 24 distrik,”ujarnya.
Pimpinan Group dari Teluk Mayalibit, Melki mengatakan grupnya tidak memerlukan waktu latihan yang berlebihan sebab Suling Tambur sendiri merupakan bagian dari tradisi masyarakat Kabupaten Raja Ampat yang sudah sering dimainkan dalam berbagai acara.
“Ini budaya tradisional kami, yang harus dipertahankan, harus diangkat, jangan sampai hilang. Kami tidak butuh waktu lama untuk persiapan. Karena kami sudah sering memainkan suling tambur ini,”
Dikatakan, para peserta berjalan tanpa alas kaki dari Kantor Bupati Raja Ampat hingga ke Pantai WTC kurang lebih 5 Km dengan membawa peralatan suling tambur sambil dimainkan. Namun, menurutnya hal itu tidak masalah, sebab masyarakat lokal pun terbiasa berjalan kaki naik turun gunung dengan jarak yang lebih jauh tanpa gunakan alas kaki.
“Sudah biasa, karena masyarakat di sana itu biasa naik gunung, turun gunung, pergi tokok sagu sekian puluh kilometer mereka tempuh. Hanya saja ini panas jadi agak menggangu,”pungkasnya. (Rin)















