Eda Doo: 52 Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan, Paling Banyak KDRT
SORONG- Kampanyekan menolak tindak kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kota Sorong membagi ribuan bunga mawar kepada para laki-laki.
Pembagian tersebar di 9 titik di Kota Sorong, diantaranya setiap lokasi Traffic light atau lampu merah serta Pasar Boswesen dan Sorong City, Jumat (9/12).
Selain itu, dari pantauan Radar Sorong bahwa Dinas PPPA Kota Sorong melakukan penandatanganan petisi stop kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Kepala Dinas PPPA Kota Sorong, Eltje Doo, SE,MM mengatakan bahwa pihaknya menyiapkan 1.000 Bunga Mawar dan dari berbagai organisasi wanita dan aktivis perempuan juga ada yang membawa untuk dibagikan kepada para laki-laki. Hal tersebut dalam rangka melakukan kampanye menolak tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak.
“Kami bersama dengan seluruh organisasi wanita, aktivis dan pemerhati perempuan dan anak melaksanakan kampanye 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan. Yang dimulai tanggal 25 November dan nanti hingga 10 Desember puncaknya,” ungkapnya usai kegiatan.
Lanjut dikatakan, rangkaian kegiatan yang Dinas PPPA lakukan sebagai peringatan Hari Anti Kekerasan terhadap perempuan yakni melakukan sosialisasi terkait dengan penolakan kekerasan terhadap perempuan, sosialisasi dan pelatihan yang berkaitan dengan peningkatan kapasitas serta keberpihakan terhadap perempuan Papua. Serta melakukan kampanye HIV/AIDS dan melakukan kunjungan ke Disabilitas.

“Nah, hari ini kami lakukan kampanye hari Anti kekerasan terhadap perempuan. Kampanye terbuka untuk seluruh masyarakat Kota Sorong. Melalui kegiatan ini bahwa kami mau bilang para perempuan di Kota Sorong harus berani bersuara dan bagi para laki-laki agar stop kekerasan terhadap perempuan dan anak. Karena kami adalah kelompok yang rentan terhadap kekerasan. Jadi kami berharap kampanye ini dapat mendorong atau mengurangi tingkat kekerasan yang terjadi di Kota Sorong,” tegasnya.
Eda Doo sapaan akrabnya ini, mengungkapkan bahwa Dinas PPPA Kota Sorong mencatat selama periode tahun 2022, kasus kekerasan terhadap perempuan berjumlah 52 Kasus.
“Lebih banyak akibat kasus KDRT, karena faktor ekonomi dan miras. Sudah banyak kasus yang ditangani, ada yang kita dampingi hingga ke tahap mediasi kemudian berdamai tapi ada juga hingga ke pengadilan. Kami berharap melalui kampanye ini maka kedepannya kasusnya bisa menurun,” harapnya.
Eda menambahkan bahwa Gabungan Organisasi Wanita, aktivis perempuan, pemerhati perempuan, para politisi dan TNI-Polri, semua yang hadir di tempat ini datang dengan tujuan yang sama. yaitu mengakhiri masalah bersama, masalah yang seharusnya kita tinggalkan, masalah yang tidak menjadi tanggungan kita, yaitu tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak.
“Kami hadir dan berdiri di sini dan kami mau bilang bahwa kami diciptakan setara oleh tangan cinta kasih Tuhan. Untuk itu, kalau kau sudah tidak sayang. Paling tidak, jangan kau sakiti kami. Kalau kau sudah tidak mau, paling tidak, jangan kau lukai kami. Karena kami perempuan dan anak berhak atas kehidupan yang nyaman dan bahagia, tanpa intimidasi, tanpa kekerasan dan tanpa perlakuan yang buruk. Stop kekerasan terhadap perempuan dan anak, sayangi keluarga atau sayangi kami,” pungkasnya.
Dalam kampanye tersebut, Kepala Dinas PPPA Kota Sorong, Eltje Doo, SE,MM memberikan setangkai Bunga Mawar kepada Plt.Sekda Kota Sorong, Karel Gefilem, S.IP secara simbolis sebagai penolakan kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Plt.Sekda Kota Sorong, Karel Gefilem, S.IP menyampaikan ucapan terima kasih kepada Dinas PPPA Kota Sorong dengan seluruh staf yang menyelenggarakan kegiatan hari ini. Menurutnya luar biasa kegiatan kampanye 16 hari ini Anti kekerasan terhadap perempuan dan anak.
“Kegiatan ini terlaksana dengan baik, semua kita yang hadir hari ini mendengarkan ini tolong untuk memberikan informasi kampanye tentang perlindungan perempuan, tolak kekerasan terhadap perempuan dan anak. Jadi ini bunga ada di dada saya (kerak baju). saya berharap kita semua punya kewajiban, kita bertanggung jawab untuk kampanye 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan dan anak. Stop kekerasan terhadap perempuan dan anak,” pungkasnya.
Ia menambahkan bahwa Indonesia membutuhkan generasi yang tumbuh sehat dan menjadi aktor untuk pembangunan bangsa dan negara itu bersumber dari perempuan yang sehat.
“Nah, perempuan yang sehat Itu membutuhkan perlindungan, karena dari perempuan yang sehat akan melahirkan generasi yang sehat,” pungkasnya.(zia)















