SORONG – Menyikapi terjadinya karhutla (kebakaran hutan dan lahan) yang berdampak pada penerbangan di Bandara Internasional DEO Sorong, maka Kepala Bandara Internasional DEO Sorong Asep Soekarjo, SH, MH bersama Kepala Stasiun Meteorologi Kelas 1 DEO BMKG Sorong Ahmad Bisri, ST, MT, Manager Operasi Tower 1 AirNav Indonesia Cabang Sorong Heri Purnomo, GM Garuda Indonesia Sorong Nadya Annisa, Kapolsek Kawasan Udara Polresta Sorong Kota Iptu Sahbudin, SH menggelar Press Conference di Kantor Bandara DEO, Kamis (8/10/2026).

Kepala Bandara Internasional DEO Sorong Asep Soekarjo mengatakan bahwa, terkait dengan dampak dari karhutla terhadap penerbangan di Bandara Internasional DEO Sorong, secara anomali pihaknya mengamati dari hari Minggu (4/10/2026) telah terjadi pengalihan penerbangan dari Sorong ke Ambon, baik itu maskapai Garuda, Lion maupun Batik semua dialihkan penerbangannya ke Ambon. Dimana mereka menunggu cuaca di Sorong membaik baru melakukan penerbangan ke Sorong.
“Secara fasilitas kita tetap berfungsi dengan baik, tapi keadaan cuaca atau alam yang tidak memungkinkan. Satu hal yang tidak bisa kita bantah adalah alam, kita tidak bisa mendesain alam itu seperti apa, karena alam punya kuasa sendiri,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I DEO BMKG Sorong, Ahmad Bisri mengatakan bahwa, kondisi terakhir sampai hari Kamis (8/10) hotspot (titik api karhutla) di bulan Oktober mulai tanggal 1 di Papua Barat Daya (PBD) sebanyak 1.463 titik api, terbanyak di Sorong Selatan (Sorsel). Berdasar pantauan satelit, kondisi dominan dari arah tenggara, Sorsel itu di arah tenggara Sorong, kalau di sana banyak titik apinya dan otomatis asapnya juga banyak maka sebaran asapnya bergeser ke arah Sorong, sehingga mengakibatkan jarak pandang dalam take off dan landing terganggu.
“Jarak pandang terburuk itu terjadi pada Rabu (7/10) pada pukul 06.05 – 07.00 WIT, yakni hanya 1000 meter (1 kilometer). Untuk hari ini (Kamis, 8/10) jam 06.30 WIT jarak pandang 1.500 m, kemudian jam 10.00 WIT jarak pandang sudah 3000 meter (3 kilometer),” terangnya. Diungkapkan pula bahwa titik api dari tgl 1 – 7 Oktober di PBD sebanyak 1.446 : di Kota Sorong 18 titik api, Kabupaten Sorong 149, Sorsel 695, Raja Ampat 368, Tambrauw 142, Maybrat 91 titik api. Sedangkan pada bulan September di PBD sebanyak 2.240 titik api: di Kota Sorong 24 titik api, Kabupaten Sorong 191, Sorsel 1.228, Raja Ampat 513, Tambrauw 207, Maybrat 77 titik api.
“Kondisi normal jarak pandang pagi hari itu kisaran 3-5 kilometer, siang sampai malam 10 kilometer ke atas, jadi memungkinkan semua penerbangan bisa landing dan take off,” tandasnya.
Sementara itu, GM Garuda Indonesia Sorong Nadya Annisa mengatakan bahwa, pesawat Garuda baru bisa landing di Bandara DEO pukul 11.00 WIT.
“Tiga hari terakhir kami baru bisa landing di Sorong sekitar pukul 11.00 WIT. Kami melakukan retiming atau penundaan waktu keberangkatan dari Jakarta, dimana biasa kita berangkat dari Jakarta pukul 00.10 WIB kita tunda jadi jam 05.00 WIB, dan landing di sini pukul 11.00 WIT, dari yang sebelumnya landing pukul 06.20 WIT. Hal ini Kita lakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan, karena pukul 11.00 di sini kondisinya sudah relatif membaik sehingga pesawat sudah bisa landing. Kita lakukan reminding untuk ingatkan kembali kepada penumpang sehingga bisa memanage penumpang terutama yang connecting baik dengan Garuda maupun dengan pesawat lain. Kalau waktu divert kemarin itu updatenya per 1 jam atau setengah jam jadi ada ketidakpastian-ketidakpastian buat penumpang kita terbangnya dari Sorong jam berapa. Dengan retiming ini lebih fix dan penumpang bisa mengetahui sejak malam hari sehingga bisa memanage perjalanan mereka,” terangnya.(akh)










