HARI Ini, tepatnya 22 Agustus 2022, Dr Johny Kamuru, SH M.Si Suka Harjono, S.Sos M.Si (JK-Suka) mengakiri tugasnya sebagai pasangan Bupati-Wakil Bupati Sorong periode 2017-2022.
Sementara Wali Kota- Wakil Wakil Wali Kota Sorong yang menjabat 10 tahun (2 periode) (2012-2017) dan (2017-2022) Drs Ec Lambert Jitmau, MM- dr Hj Pahimah Iskandar (LAPIS) mengakihiri masa tugasnya pada 23 Agustus 2022 besok.
Di momen penting ini, jurnalis Radar Sorong pun merangkum beberapa tanggapan warga seperti tertuang dalam rubrik berikut.
5 Tahun Kepemimpinan JK-Suka

Sering Ketemu Masyarakat
”Seorang pemimpin harus memiliki jiwa ’memilki’. Nilai ini terletak pada diri Bupati Sorong, Dr. Jhony Kamuru, SH, M.Si. Sosok pemimpin yang merakyat, sebab kerap kali menjumpai rakyatnya di perkampungan. Melalui kunjungan tersebut, seorang pemimpin akan melihat langsung kondisi dan keadaan masyarakat dan mendengarkan keluh kesahnya. Serta merancang program yang tepat guna untuk mesyarakat tersebut.
Contoh paling nyata terlihat dalam satu periode kepemimpinan Bupati Johny Kamuru dan Wabup Suka Harjono, adalah pembangunan infrastruktur yang semakin difokuskan. Diantaranya pembangunan ruas jalan yang menghubungkan daerah yang satu dengan daerah lainnya. Dengan adanya akses jalan terbuka untuk rakyat maka ekonomi akan tumbuh di pedesaan.
Kemudian komitmen Bupati – Wakil Bupati untuk menghadirkan sarana telekomunikasi hingga ke pelosok. Hal Program tersebut masyarakat di pedalaman dan daerah 3T bisa mengakses teknologi walaupun belum 100% jika dibandingkan dengan masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan.
Siapapun nantinya yang dipercayai untuk memimpin Kabupaten Sorong mulai hari ini sampai menjemput 2024, agar dapat mengambil contoh yang baik dari pasangan pemimpin Dr. Johny Kamuru dan Suka Harjono. Serta dapat menyelesaikan target pekerjaan yang belum selesai. Salah satu masalah yang paling urgent untuk diperhatikan di Kabupaten Sorong adalah masalah kebersihan. Pemerintah harus punya program yang dapat menyadarkan masyarakat untuk membangun lingkungan yang bersih. Permasalahan ini harus diatasi dengan serius, sehingga kedepan Kabupaten Sorong menjadi daerah yang sehat dan bersih, serta bisa meraih penghargaan Adipura”. (Karmila Sinen, M.IP)

Infrastriktur Kurang Tepat Sasaran
”5 tahun di bawah kepemimpinan Bupati Johny Kamuru dan Wabup Suka Harjono, ada beberapa hal yang membuat saya kecewa karena pembangunan di bidang infrastruktur yang kurang tepat sasaran. Bupati fokus membangun Hotel Aimas dan beberapa villa, sementara saat ini banyak gedung sekolah yang kondisinya sudah tidak layak. Juga ada beberapa kantor kelurahan dan distrik yang status bangunannya masih kontrak, kenapa bukan itu yang dibangun lebih dulu. Menurut saya ini adalah bentuk penyelewengan dana, jadi dimana ada penyelewengan dana disitulah ada kaum yang tertindas.
Kemudian terkait sejumlah kegiatan investasi yang masuk ke Kabupaten Sorong tanpa melibatkan masyarakat adat. Hal ini seperti menunjukkan ketidakberpihakan pemimpin terhadap keberadaan masyarakat adat. Masyarakat Moi tidak dijadikan subjek, sehingga dampak positifnya hanya dirasakan kaum kapitalis. Bahkan serapan tenaga kerja dari masyarakat Moi sangat minim. Padahal masyarakat adat telah mengorbankan hutan dan tempat keramatnya dirusak. Seolah-olah Pemimpin ini berselingkuh dengan kaum kapitalis, sementara masyarakat adat hanya dijadikan retorika.
Harapan saya ke depan, sosok Bupati haruslah yang memiliki jiwa nasionalis dan merakyat. Bisa mencintai dan memahami apa yang menjadi keinginan rakyat kecil, khsusnya masyarakat adat.
Masyarakat adat tidak butuh hidup mewah dengan memiliki hotel megah. Namun kaya raya yang dimaksud adalah, masyarakat punya sumber daya alam yang melimpah dan bisa dikelola dengan cara mereka sendiri tanpa perlu diintervensi pihak luar”. (Yehezkiel Kalasuat)

Program SDM-nya Bagus
”Saya melihat kepemimimpinan JK-Suka sudah cukup baik, terutama lewat program peningkatan SDM-nya yang sesuai dengan salah satu visinya menjadikan masyarakat Kabupaten Sorong yang cerdas. Visi itu terjawab lewat program sekolah gratis untuk SD-SMP. Juga didukung dengan menyediakan akomodasi bus sekolah gratis bagi siswa. Kemudian di bidang infrastruktur jalan, banyak akses jalan baru yang dibuka sehingga bisa menghubungkan satu titik ke titik lain. Ini memudahkan aksesbilitas masyarakat. Kemudian juga terkait tersedianya RTP Alun-Alun yang lebih bagus. Bahkan sebelum turun, kodisinya sudah dipercantik dengan lampu hias. Ini jadi ikon Kabupaten Sorong yang membuat masyarakat betah berlama-lama di sana.
Namun sebagai seorang guru, saya menyayangkan terkait kebijakan pembayaran gaji guru PPPK yang informasinya akan dibayarkan per bulan juli. Padahal di SK tertera per bulan April, lalu hak kami yang 3 bulan dikemanakan. Bahkan janji yang katanya pembayaran tanggal 1 Agustus, nyatanya sampai sekarang belum ada kabar. Saya harap bukan hanya siswanya yang diakomodir untuk mendapatkan pendidikan dengan lebih mudah. Tapi bagaimana kesejahteraan para pendidik juga harus diperhatikan. Karena pendidik/guru merupakan bagian dari kunci kemajua pembangunan SDM”. (Heryani Risakotta). (Ayu)
10 Tahun Kepemimpinan LAPIS (Lambert-Pahima Iskandar)

Masalah Banjir belum Tertangani
”Sebagai warga Kota Sorong, meskipun saat ini diluar daerah karena kerja. Tapi periode pertama saya sepenuhnya di Kota Sorong dan periode kedua, hanya separuh tapi saya sering pulang ke Kota Sorong. Sebagai masyarakat saya bingung melihat komunikasi antara walikota dan wakil walikota, karena yang muncul ke publik seolah-olah dua orang ini tidak memiliki Komunikasi yang baik.
Wali kota selalu tampil di mana-mana, sementara wakil tidak pernah tampil. Ini menjadi pertanyaan banyak orang tentang hubungan 2 pasang ini. Ibarat dalam rumah tangga, apakah mereka sedang pisah ranjang kah atau apa. Kita tidak tahu. Contoh kebijakan-kebijakan, seperti masalah banjir di 2 periode untuk pergerakan ke arah lebih baik itu tidak ada. Masalah tata ruang itu sampai sekarang tidak ada penataan lebih baik. Sehingga setiap hujan, orang akan berteriak banjir disana/sini.
Sampai hari ini pun warga tidak mendapatkan upaya apa yang dilakukan pemerintah dalam mengatasi banjir. Karena masalah banjir yang utama, karena banjir menghancurkan investasi warga, seperti ruko dan rumah. Karena orang membangun rumah, membeli rumah dengan bersusah payah itu dengan harapan nilai jual kedepannya itu menjadi lebih baik. Itu investasi, tetapi dengan kondisi buruknya kota karena banjir semua investasi warga yang dilakukan menjadi jatuh harga.
Kemudian pendidikan, kalau pendidikan ada sekolah yang betul-betul memperhatikan siswanya sehingga pendidikan begitu murah. Tapi ada juga sekolah yang lain sepertinya tidak seragam karena sekolah negeri pun yang dibiayai pemerintah tidak seragam dalam uang pendaftaran.
Kemudian sektor kesehatan ada peningkatan kemajuan, datanya saya meng-capture di wilayah rumah saya. Saya melihat bagaimana upaya dan kerja keras kepala puskesmas di tempat saya tinggal. Tapi belum menemukan kebijakan wali kota terhadap pelayanan kesehatan. Kemudian Kota Sorong ini tingkat kenyamanan yang cukup rendah, karena tingkat kriminalitas di malam hari cukup tinggi. Ini tidak terlepas dari kepemimpinan kedua Pejabat tersebut
. Kemudian saya dari Kota Sorong sempat melihat pekerjaan stadion, saya kembali ke luar daerah ternyata stadion sudah diresmikan. Saya khawatirkan aspek keamanan dan keselamatan jangan sampai terabaikan. Itu fasilitas publik, saya harap peresmian yang terburu-buru ini tidak mengakibatkan hal yang tidak kita inginkan. Kalau dikasih skala nilai, 1-10, maka saya kasih nilai 6. Saya tidak membenci beliau, tapi mengatakan sebagai warga masyarakat Kota Sorong. Untuk Wali Kota/Wakil wali kota tahun 2024 nanti harus lebih fokus pada penanganan banjir tegas dalam melihat dan memberi ijin soal pemanfaatan tata ruang kota. Yang paling penting adalah berani dalam menggunakan anggaran sejak semester pertama terutama dalam urusan penciptaan lapangan kerja, kreative bagi warga kota,” pungkasnya. (Edi Mangun). (zia)

Cukup Baik, Tingkatkan Pelayanan ASN
Kalau dari segi pembangunan Kota Sorong cukup maju, ada bandara, stadion, pasar modern, dan ruko-ruko dibangun tertata. Jalan-jalan juga bagus, meski da beberapa yang belum ditangani. Kemudian untuk sektor perekonomian cukup baik. Tapi ketika dilanda Corona memang ada penurunan dan itu bukan terjadi di Kota Sorong saja. Meski ada Corona dan PPKM tapi aktivitas warga masih bisa berjalan meski terbatas untuk meningkatkan ekonominya.
Bahkan Kota Sorong masih lebih maju di banding daerah di Papua Barat. Kalau dari sisi kesehatan juga cukup baik. Karena pelayanan kesehatan dari puskesmas sudah bertingkat, ada rawat inap dan ruang bersalin, posyandu dan dokter-dokter di Kota Sorong cukup banyak. Kalau skala nilai, saya kasih nilai 8 untuk pak wali dan Bu wakil selama 2 periode.
Sebagai manusia biasa memang ada kekurangan sehingga untuk penanganan banjir di kota ini memang perlu diatasi menjadi prioritas. Sampah juga masih berserakan. Kemudian wali kota dan wakilnya selama ini kurang terjun langsung ke masyarakat. Namun saya harapkan kepada wali kota dan wakilnya di tahun 2024 semoga program yang lama dilanjutkan dan perlu ditingkatkan. Untuk masalah banjir harus ditangani. Kemudian untuk jam operasional pelayanan ASN harus tepat waktu, karena ada beberapa instansi pelayanan publik ketika didatangi jam 8 pagi tetapi belum ada pelayanannya, dan bahkan belum jam pulang kantor tetapi sudah tidak ada orang yang melayani,” katanya. (H. Hasbullah, S.Sos). (zia)

Pembangunan Bagus tapi Tergesa-gesa
Memberikan nilai 8 kepada kepemimpinan Wali Kota Sorong,Drs.Ec.Lambert Jitmau,MM dan Wakilnya dr.Hj.Pahimah Iskandar selama 2 periode.
Indikator Keberhasilan Kepemimpinan itu Terletak pada Kesejahteraan, Kebahagiaan dan Kenyamanan Warganya. Harus ada Kartu Otsus untuk Orang Asli Papua. Biaya sekolah khusus orang Papua masih mahal.
Kalau saya lihat masa kepemimpinan beliau, kalau presentase masih 80 persen. Karena di bidang Pendidikan sudah bagus tapi pembayaran SPP, pendaftaran sekolah masih mahal. Karena khusus orang asli Papua itu harus tercover dari dana Otsus. Untuk kampus-kampus juga harus ada subsidi. Saya bicara khusus orang asli Papua karena ada dana Otsus. Kalau pembangunan memang sudah bagus tapi cukup tergesa-gesa.
Misalnya Pasar Modern dan stadion, mengapa mau turun baru diresmikan. Kalau bicara kinerja, bukan pada peresmian pasar dan lapangan hocky. Saya bilang lapangan hocky karena stadion yang katanya berstandar internasional. Tapi sebagai masyarakat kami menyampaikan terima kasih. Karena kepemimpinan beliau berdua bisa membawa kita masyarakat Kota Sorong sampai pada titik dimana orang tidak berbicara kepuasan karena masing-masing orang berbeda.
Untuk kesehatan, misalnya puskesmas kan memang nomenklatur harus 2 lantai jadi pekerjaan yang dilakukan karena nomenklatur dari pusat. Kalau ide sendiri tidak ada. Yang terpenting bagaimana membangunkan sumberdaya masyarakat Kota Sorong terutama orang asli Papua. Seharusnya ada kota layak anak di Kota Sorong.
Untuk Taman DEO, saya sampaikan terima kasih kepada para pedagang karena mereka bisa membangkitkan kota ini menjadi wajah bagi anak-anak seperti ada permainan odong-odong, mewarnai. Sebagai pemimpin tidak bisa membangun semua untuk orang dewasa tetapi anak-anak perlu perhatian khusus karena mereka generasi penerus bangsa terutama anak-anak Papua. Mereka butuh taman anak-anak, butuh hiburan. Contoh pada 17 Agustus kemarin, saya merasa kecewa dan sedih, karena tidak ada perayaan memeriahkan hari kemerdekaan republik Indonesia tersebut. Kenapa kabupaten lain bisa buat lebih meriah, dan kita di kota tidak. Saya rindu, akhirnya kita masyarakat yang buat acara kecil-kecil.
Sedangkan dari pemerintah tidak ada, hanya mengejar peresmian yang tergesa-gesa. Kita liha di Jawa Barat ada presentase kebahagiaan masyarakat, karena ada taman bermain. Sehingga gubernur Jawa Barat bekerjasama dengan Bupati Kabupaten Sorong membuat alun-alun Aimas yang sekarang lagi viral. Disitu kita bisa duduk santai, berolahraga dan bisa akses internet gratis di tempat tersebut. Kita masyarakat harus bicara jujur. Yang terpenting adalah bagaimana rakyat bisa sejahtera, bukan karena dapat bantuan sembako. Jadi ada indikator lainnya.
Sebagai masyarakat kami sampaikan terima kasih atas kepemimpinan beliau berdua dalam 2 periode ini, membawa kota ini masih aman dan baik. Tapi secara pribadi masih jauh. Kalau indeks kebahagiaan mereka ciptakan sendiri di lingkungan tempat tinggal mereka keluarga mereka. Saya berpatokan ke Jawa Barat karena mereka menilai pencapaian keberhasilan jika indeks kebahagiaan masyarakat meningkat. Kalau belum berarti ada sesuatu yang diubah dan ditingkatkan. Masyarakat Bandung itu bisa menikmati alun-alun yang dibangun gubernur. Kita bisa survey tanya kepada pedagang siomay, cilok, bakso keliling, penjual kripik, kebahagiaan mereka seperti apa.
Jika pendapatan sehari dapat Rp100 ribu, Rp200 ribu, apakah mereka bahagia?. Nah, indikator itu yang bisa bilang itu adalah pencapaian keberhasilan. Kalau fisik, kita lihat banyak. Kalau Kesehatan saya lihat berhasil karena di 10 distrik untuk Puskesmas sudah sesuai nomenklatur. Itu sudah bagus, ada rawat inap dan ruang bersalin.
Orang tidak lagi, lari dari Tambak Garam ke km 12 RSUD Sele Be Solu untuk melahirkan, karena di Saoka dan Kampung Baru sudah ada. Kemudian persoalan banjir, Hanya tingkat kebersihan yang ada di lingkungan kita. Bagaimana membuang sampah pada tempatnya. Harapan saya kepada pemimpin yang baru harus gunakan anggaran tepat sasaran, dana kesehatan untuk biaya kesehatan. Dan untuk Papua Barat, khusus orang Papua harus ada kartus Otsus untuk orang Papua seperti di Papua. Dan kita jangan memanjakan masyarakat, harus ada pendidikan karakter dan kalau bisa ada anggaran khusus untuk beasiswa orang asli Papua. (Johana Kamesrar). (zia)













