SORONG – Kabut asap yang menyelimuti langit Kota Sorong dan sekitarnya menyebabkan sejumlah pesawat terpaksa mengalihkan rute dan mendarat di bandara lain (diverted flight).

General Manager (GM) Garuda Indonesia Sorong Nadya Annisa saat dikonfirmasi Radar Sorong menjelaskan bahwa, hari Senin (5 Oktober) dan Selasa (6 Oktober) penerbangan Garuda dari Jakarta menuju Sorong mengalami divert (pangalihan) menuju Bandara Pattimura Ambon.
“Kedua penerbangan yang terdampak adalah GA 682 tujuan Jakarta – Sorong, dengan rata-rata isian penumpang dari Jakarta adalah 120 penumpang, semua berasal dari Jakarta,” terangnya.
Saat ditanya apa yang menjadi penyebab pesawat Garuda tidak mendarat di Sorong, menurut Nadya jarak pandang minimum Bandara DEO yang dirilis oleh BMKG pada 30 menit sebelum ketibaan (05.30 WIT) sebesar 2,5 km, dimana untuk standar keselamatan Garuda hal ini belum memenuhi ketentuan minimum untuk landing, sehingga pilot memutuskan untuk divert (mengalihkan rute dan mendarat) ke Ambon hingga jarak pandang yang dirilis oleh BMKG Sorong sudah memenuhi (sekitar 5 km). Dikatakan pula bahwa Hari Selasa (6 Oktober) ini ada pesawat Garuda yang mendarat di Sorong.
“Pesawat GA 682 Jakarta – Sorong baru tiba hari ini karena divert dan menunggu cuaca membaik, baru tiba dari Ambon pukul 13.00 WIT. dan langsung beroperasi menuju Jakarta pukul 14.15 WIT. Total delay 7 jam,” ungkapnya. Saat ditanya apakah pihak Garuda memberikan kompensasi kepada penumpang yang divert ke Ambon, dan yang delay di Sorong, Nadya menjelaskan bahwa, berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 89 Tahun 2015, bila terjadi force majeure atau bencana alam, yang merupakan salah satu faktor penyebab keterlambatan atau pembatalan penerbangan, membebaskan maskapai dari kewajiban membayar ganti rugi finansial kepada penumpang. Namun, maskapai tetap memiliki kewajiban pelayanan dasar berupa:memfasilitasi pemindahan penumpang ke penerbangan berikutnya (re-route), mengembalikan biaya tiket secara penuh (refund ticket), memberikan informasi yang transparan dan valid mengenai alasan pembatalan atau keterlambatan berdasarkan dokumen resmi otoritas terkait.
“Kami berharap bencana kabut asap ini segera dapat teratasi, khususnya bantuan dari pemerintah daerah dan pihak terkait untuk dapat mengatasi hal ini. Karena kami rasa pada 3 hari terakhir, kondisi semakin memburuk dan dapat mempengaruhi faktor keselamatan penerbangan dan juga kesehatan. Apalagi Sorong sebentar lagi akan menghadapi peak season kedatangan turis-turis periode akhir tahun,” pungkasnya.
Sementara itu, Station Manager Lion Air Sorong, Suhardi saat dikonfirmasi Radar Sorong mengatakan bahwa, hari ini (Selasa, 6 Oktober) penerbangan Batik Air ID 7797 dari Jakarta ke Sorong mengangkut 144 penumpang divert (dialihkan) ke Ambon, karena kondisi cuaca di Sorong tidak memenuhi jarak pandang yang aman untuk landing.
“Penyebabnya adalah kabut asap yang rendah hingga jarak pandang 2 km,” ujarnya.
Dikatakan bahwa pesawat Batik Air hari ini mendarat di Bandara DEO yaitu Batik Air ID 7797 setelah divert ke Ambon, setelah itu dari Bandara DEO lanjut terbang ke Jakarta. Dikatakan pula bahwa dalam peristiwa ini pihaknya tidak memberikan kompensasi kepada penumpang.”Sesuai dengan Peraturan Menteri PM 89 tahun 2015 pasal 6 ayat 2 bahwa maskapai tidak dibebankan tanggung jawab atas kompensasi keterlambatan akibat force major,” terangnya.
Suhardi berharap semoga kondisi cuaca kabut asap di Sorong ini segera selesai agar masyarakat pengguna penerbangan bisa bepergian tanpa adanya keterlambatan.(akh)











