SORONG – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Papua Barat Daya (PBD) bersama United Nations Children’s Fund (UNICEF) menggelar Pertemuan Identifikasi Hambatan dan Pelibatan Masyarakat untuk Mengatasi Tuberkulosis (TB) Anak di Papua Barat Daya, Rabu (1/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di salah satu hotel di Kota Sorong tersebut dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Papua Barat Daya, Drs. Yakob Kareth, M.Si., dengan menabuh tifa.
Perwakilan UNICEF, Husny Muttaqin mengatakan, TB anak masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan anak di Indonesia. Husny Muttaqin mengatakan, kasus TB anak diperkirakan mencapai 10-15 persen dari total kasus TB, namun penemuan TB pada anak juga menjadi indikator masih tingginya penularan TB pada kelompok usia lainnya.”Anak tidak akan mendapat TB jika tidak ditularkan oleh orang dewasa. Jadi jika ada anak yang terkena TB, itu artinya di sekitarnya ada orang dewasa yang menularkan,” ujar Husny Muttaqin.
Husny Muttaqin mengatakan, TB juga berkaitan erat dengan kondisi kesejahteraan masyarakat, seperti kemiskinan, tempat tinggal yang tidak layak, serta gizi buruk. Karena itu, Husny Muttaqin mengatakan, penanganan TB tidak dapat hanya dilakukan dari sisi medis, tetapi membutuhkan perhatian terhadap aspek sosial dan lingkungan.”TB ini sangat penting untuk ditangani, tetapi yang menjadi persoalan adalah bagaimana mengatasi hambatan-hambatan yang ada di lapangan,” katanya.
Husny Muttaqin mengatakan, UNICEF membutuhkan dukungan lintas sektor untuk menangani TB, khususnya TB anak, mulai dari pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kader masyarakat, tokoh agama hingga keluarga.
Husny Muttaqin berharap pertemuan yang berlangsung selama dua hari tersebut dapat menghasilkan rencana aksi yang konkret dan dapat diimplementasikan untuk mempercepat penanganan TB anak di Papua Barat Daya.”Kami berharap selesainya kegiatan ini ada satu rencana aksi yang dapat terwujudkan untuk mengatasi TB, khususnya TB anak di Papua Barat Daya,” pungkasnya.
Sementara itu, Sekda Papua Barat Daya Yakob Kareth menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya untuk mendukung upaya eliminasi TB di wilayah tersebut.
Yakob Kareth mengatakan, TB bukan persoalan kecil bagi Indonesia. Indonesia masih menempati peringkat kedua dunia dalam jumlah kasus TB.”Karena itu, Bapak Presiden telah menetapkan penanganan TBC sebagai salah satu Program Hasil Terbaik Cepat atau Quick Win Pemerintah, dengan target menurunkan kasus TBC hingga separuhnya pada tahun 2030, sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis,” ujarnya.
Yakob Kareth mengatakan, program prioritas nasional tersebut harus diwujudkan hingga ke tingkat kampung, termasuk di Papua Barat Daya.”Dibalik setiap angka TBC ada seorang anak. Anak yang batuk berminggu-minggu, berat badannya tidak naik, tidak bisa bermain dan bersekolah seperti teman-temannya, dan sering kali orang tuanya takut atau malu membawanya berobat. Padahal TBC dapat dicegah dan dapat disembuhkan,” jelas Yakob Kareth.
Yakob Kareth mengungkapkan, berdasarkan perkiraan terdapat 494 anak dengan TB di Papua Barat Daya pada 2026. Namun, hingga Agustus 2026 baru 144 anak atau sekitar 29 persen yang berhasil ditemukan.”Artinya, masih ada lebih dari 350 anak Papua Barat Daya yang mungkin sedang sakit tanpa diagnosis dan tanpa pengobatan. Mereka adalah anak-anak kita sendiri,” tegas Yakob Kareth.
Yakob Kareth mengatakan, TB pada anak hampir selalu tertular dari orang dewasa di sekitarnya.
Menurutnya, setiap kasus yang belum ditemukan menunjukkan masih adanya potensi penularan di dalam rumah maupun lingkungan kampung yang belum terputus.Yakob Kareth mengatakan, faktor gizi, kondisi rumah, kemiskinan, stigma, dan akses layanan kesehatan juga menjadi tantangan dalam penanganan TB anak karena sebagian berada di luar kewenangan sektor kesehatan.
“Penyebabnya pun, seperti gizi, kondisi rumah, kemiskinan, stigma, dan jauhnya akses layanan, sebagian besar berada di luar kewenangan sektor kesehatan. Itulah sebabnya hari ini kita duduk bersama sebagai lintas sektor,” tutup Yakob Kareth.Pertemuan tersebut diharapkan menghasilkan rencana aksi bersama yang konkret untuk mempercepat penemuan, pencegahan, dan penanganan TB anak di seluruh kabupaten/kota di Papua Barat Daya.(zia)











