SORONG— Dalam rangkaian penyerahan bantuan sarana pendidikan di Kota Sorong, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Abdul Mu’ti, membeberkan peta jalan kebijakan pembangunan fisik sekolah untuk tahun anggaran 2026. Pemerintah pusat berkomitmen menegakkan pemerataan mutu pendidikan dengan memberikan perhatian penuh pada sekolah di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).
Abdul Mu’ti merinci ada tiga kategori sekolah utama yang masuk ke dalam skala prioritas intervensi anggaran pembangunan tahun 2026. Prioritas pertama diberikan kepada sekolah-sekolah yang terdampak oleh bencana alam di berbagai wilayah. Prioritas kedua adalah sekolah di kawasan 3T, dan prioritas ketiga diarahkan langsung pada sekolah umum yang mengalami kerusakan fisik tingkat berat.
Mendikdasmen mengatakan bahwa Langkah penajaman sasaran ini juga diintegrasikan dengan akselerasi program digitalisasi sekolah. Pemerintah membuktikan komitmen pemerataan tersebut dengan mengirimkan sarana penunjang canggih berupa Panel Interaktif Digital (PID) hingga ke pedalaman wilayah Papua demi menipiskan kesenjangan mutu pendidikan antara pusat dan daerah.
“Kami informasikan, untuk tahun 2026 ini prioritas revitalisasi kami fokuskan pada sekolah-sekolah yang terdampak bencana alam, kedua sekolah di daerah 3T, dan yang ketiga sekolah-sekolah yang fisiknya rusak berat. Untuk program digitalisasi, sempat ditampilkan beberapa kali di rapat kabinet bagaimana Panel Interaktif Digital (PID) sudah sampai di Papua, bahkan diantar dengan menggunakan perahu ke daerah pedalaman,” jelas Mendikdasmen.
Melalui integrasi revitalisasi bangunan fisik dan digitalisasi sarana prasarana ini, Mendikdasmen berharap predikat sekolah sebagai ‘rumah kedua’ yang aman dan nyaman bagi anak didik dapat terwujud secara merata, tanpa memandang sekat geografis maupun tantangan alam yang ada.
“Kita jadikan sekolah sebagai tempat di mana anak-anak kita merasakan sekolah sebagai rumah mereka yang kedua. Menjadikan sekolah sebagai tempat mereka tidak hanya belajar bagaimana mereka dapat menjadi generasi yang berilmu, cerdas, terampil, dan mandiri, tapi menjadikan sekolah sebagai tempat terbangunnya integrasi sosial,” katanya.
“Sekolah adalah miniatur Indonesia. Sekolah adalah tempat di mana anak-anak kita menjadi anak-anak Indonesia dengan berbagai macam latar belakangnya,” pungkasnya.(zia)













