BP Am Sinode Bantah Ketiadaan Pelayanan bagi Jemaat Kisor Raya
AIMAS – Badan Pekerja (BP) Am Sinode Wilayah VII GKI di Tanah Papua bersama Klasis Aifat secara konsisten memberikan pelayanan peribadatan kepada seluruh warga jemaat di Kisor Raya.
Pelayanan tersebut terus berjalan meski di tengah keterbatasan sejak tragedi penyerangan Posramil Kisor pada 2 September 2021 lalu, hingga dengan kembalinya pengungsi Kisor ke kampung halaman saat ini.
Anggota Badan Pekerja (BP) Am Sinode Wilayah VII GKI di Tanah Papua, Pdt. Nimrod Sesa mengungkapkan GKI dan Sinode tak pernah tutup mata dan menghentikan pelayanan kerohanian bagi para pengungsi Kisor Raya yang merupakan basis GKI.
“Langkah yang diambil oleh Jemaat, Klasis dan Sinode sudah sangat luar biasa, terutama Klasis GKI Aifat. Bahkan kami datangkan PGI (Persekutuan Gereja Indonesia) dan Persekutuan Gereja Dunia agar mereka dapat memberikan perhatian dan melayani jemaat Kisor Raya.
Ini salah satu bukti bahwa GKI tidak tutup mata terhadap situasi yang dialami jemaat di sana,” ungkap Nimrod Sesa yang juga menjabat sebagai Sekwan DPRD Kabupaten Sorong.
Ketua Klasis GKI Aifat, Septrianus Assem menambahkan, setelah peristiwa 2 September 2021, Klasis GKI Aifat turut melakukan penyelamatan pengungsi dari dalam hutan. Dimana proses evakuasi pengungsi berlangsung selama tiga hari. Pelayanan kerohanian tetap diberikan kepada para pengungsi Kisor Raya.
Tak hanya pelayanan kerohanian melainkan juga pelayanan makan minum. Pelayanan diberikan merata kepada seluruh pengungsi, baik Kristen maupun Katolik. Dimana disepakati pembagian pelayanan dilakukan di beberapa Klasis, diantaranya Klasis Aifat, Klasis Ayamaru, Klasis Aitinyo dan lainnya.
“Kami menyalurkan bantuan dari Sinode pada bulan September, yang bantuan tersebur dibelikan sejumlah Bapok dan dibagikan kepada seluruh jemaat. Kami juga membuka Posko yang terpusat di Jemaat GKI Sion Kumurkek untuk memberikan pelayanan di sana,” beber Ketua Klasis GKI Aifat.
Bukan hanya sesaat, pelayanan tersebut juga terus berlangsung sampai hari ini. Bahkan, sepulang dari Raker Sinode baru-baru ini, Klasis Aifat bersama Pemerintah dan TNI/Polri sudah memulangkan kembali para pengungsi ke Kisor.
Untuk pemenuhan kebutuhan kerohanian bagi warga jemaat Kisor Raya, Klasis Aifat juga sudah mengutus pendeta untuk melayani masyarakat di sana.
Pernyataan kedua pimpinan wilayah dan pimpinan Klasis tersebut berbanding terbalik dengan statement Ketua Dewan Adat Papua (DAP) Wilayah III Doberay Mananwir Paul Finsen Mayor yang menyatakan bahwa jemaat di Kisor Raya bagai anak ayam kehilangan induk, akibat ketiadaan pelayanan kerohanian yang diberikan oleh Klasis setempat sejak tragedi Kisor pada 2021 lalu.
Disebutkan Paul, dirinya sempat menerima pengaduan yang menjelaskan bahwa warga jemaat Kisor Raya kebanyakan masih berada di dalam hutan dengan kondisi sangat memprihatinkan. Bahkan ada yang sakit sampai meninggal, dan jenazahnya tidak dimakamkan dengan layak.
“Mereka sampaikan jenazah dimakamkan tanpa didahului ibadah pemakaman karena tidak ada pelayanan bagi jemaat pengungsi Kisor Raya. Bahkan ada jenazah yang mereka buang dijurang,” beber Paul mengisahkan kabar tersebut.
Saat ditemui Radar Sorong di ruang kerjanya, Nimrod Sesa sendiri sangat menyesalkan pernyataan Ketua DAP yang juga adalah warga GKI. Menurut Nimrod, seharusnya Ketua DAP melakukan konfirmasi kepada pimpinan Klasis setempat terkait kebenaran informasi tersebut sebelum menyampaikannya kepada media.
“Apakah benar ada jemaat yang meninggal dan dibuang di jurang. Harusnya beliau konfirmasi kepada pengurus GKI terkait kebenaran informasi tersebut. Jangan langsung memberikan pernyataan sepihak tanpa kroscek kebenaran informasi, apalagi disampaikan ke media,” sanggah Nimrod Sesa.
“Ingin saya katakan bahwa ketika terjadi peyerangan pertama kali, GKI bersama Klasis lah yang turun tangan lebih dulu. Banyak hal kami lakukan, bahkan pelayanan tidak terputus sedikit pun hingga hari ini. Kami utus para pendeta untuk terus dapat melayani warga jemaat di sana. Sampa nanti mereka bisa rayakan natal di kampung halaman,” lanjutnya.
Dikatakan Nimrod, klarifikasi tersebut perlu ia sampaikan untuk membantah pernyataan Ketua DAP. Sehingga jangan sampai orang lain mengira bahwa GKI di Tanah Papua menutup mata untuk situasi yang dialami jemaat di Kisor Raya. (ayu)













